Ajaibnya Padang dan Orang Minang
Monday, April 24, 2006
Friday, October 21, 2005
Kerusakan Kars Citatah
Sumber: http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0405/21/jabar/1036866.htm
Dicetak Sabtu, 19 Juni 2004 - 06:05:51 WIB dikliping oleh subterra.or.id
Musuh Itu Bernama Ketidakpedulian
Kompas, Jumat, 21 Mei 2004
Kerusakan Kars Citatah
Musuh Itu Bernama Ketidakpedulian
Harum madu/di mawar merah, mentari di tengah-tengah/ Berbelit jalan
ke gunung kapur,/antara Bandung dan Cianjur.
BEGITULAH penyair Sunda Ramadhan Kartahadimadja melukiskan keindahan
pegunungan gamping Kars Citatah, Kabupaten Bandung, setelah ia
kembali dari pengembaraannya di Eropa tahun 1954.
Meskipun puisi yang dibukukan dalam Priangan Si Jelita itu lahir dari
kegundahan hati sang penyair tatkala tanah kelahirannya menjadi
korban gejolak politik Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).
Tetapi, penggambaran dalam puisi itu seolah mengingatkan: jangan
korbankan tanah indah Priangan ini demi kepentingan kekuasaan semata.
DI/TII sudah lama hilang, namun bumi Priangan tetap menjadi korban
oleh ketidakpedulian manusia. Terlebih, landmark bumi Priangan yaitu
Kars Citatah, yang terbentang antara Bandung dan Cianjur, kini
semakin terancam hilang akibat penambangan batu gamping.
Tengok saja Pasir (bukit) Masigit dan Pasir Bancana yang sebagian
bukitnya telah hilang akibat penambangan. Begitu pula Pasir Bende
yang tambah hari semakin berkurang ketinggiannya. Hal yang sama juga
mengancam bukit lain yang berada di Kars Citatah, antara lain Pasir
Leuit, Pasir Pawon, Karang Panganten, dan Pasir Pabeasan.
Pertambangan batu gamping di daerah ini sebenarnya sudah terjadi
sejak pertengahan abad ke-19 dan terus berlangsung hingga kini. Tentu
saja, dulu belum seaktif sekarang yang sudah menggunakan alat canggih
dan dinamit untuk meledakkan bagian bukit yang mengandung gamping.
Seratus kilogram batu gamping dapat menghasilkan 56 kilogram kapur
dengan cara membakar batu gamping pada suhu 903 derajat Celsius.
Pembakaran itu akan menghasilkan karbon dioksida (CO2) dan menyisakan
quick lime (CaO).
Kapur (CaOH2) didapat dengan menambahkan air secukupnya pada CaO.
Selain kapur, batu gamping dapat diolah menjadi tepung karbonat dan
marmer poles.
Memang, kapur mempunyai nilai ekonomis tinggi. Sepertiga kapur dunia
digunakan untuk metalurgi sebagai bahan campuran pelebur dan
menaikkan konsentrat bijih besi. Sepertiga lainnya digunakan untuk
industri kimia, dan sisanya antara lain untuk industri konstruksi,
kertas, dan pertanian.
Namun, keuntungan signifikan tentunya ada di tangan pengusaha dan
pemodal. Sedangkan para pekerja yang kebanyakan penduduk setempat
dengan kondisi ekonomi yang memprihatinkan hanya mendapat upah
sekitar Rp 20.000 per hari. Apa yang mereka dapat sungguh tidak
sebanding dengan kerusakan lingkungan daerah itu yang berdampak buruk
bagi kesehatan penduduk.
Pada Maret 2002, konsentrasi debu pada udara ambien di Citatah
tercatat sebesar 312,27 c/o mg/m3. Padahal, baku mutu lingkungan yang
ditetapkan lewat Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Lingkungan
Hidup Nomor 2 Tahun 1988 sebesar 260 c/o mg/ m3.
Selain itu, kandungan bahan organik tanah di Citatah pada umumnya
kurang dari 2,0 persen, sehingga rentan terhadap erosi. Sebagian
besar lahan sudah terbuka dan tanaman penutup lahan sebagai sumber
bahan organik sudah berkurang.
Air sungai di sekitar daerah Citatah pun tak luput dari pencemaran.
Konsentrasi jumlah zat padat terlarut dan jumlah zat padat
tersuspensi dalam air sungai lebih tinggi dibandingkan dari air
limbah pabrik marmer di daerah itu, yaitu 571,25 mg/liter dan 63,61
mg/liter.
Hal itu dikarenakan adanya erosi yang terjadi di daerah terbuka
lokasi pertambangan, ketika air limpasan menggerus dan membawa
partikel tanah masuk ke dalam sungai.
KERUGIAN akibat penambangan itu bukan hanya dialami masyarakat
Citatah saja, tetapi juga masyarakat Jawa Barat dan Indonesia
terutama bagi dunia pendidikan.
Pada 9 Desember 2000 Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) menemukan
benda-benda prasejarah untuk pertama kali di Goa Pawon, Pasir Pawon,
Kars Citatah, antara lain berupa alat-alat batu dan tulang, gerabah,
sisa tulang, dan gigi binatang.
Kemudian, pada Oktober 2003, Balai Arkeologi Bandung menemukan
kerangka utuh Homo sapiens yang diduga berasal dari ras Mongolid
dalam posisi meringkuk.
"Penelitian terakhir menemukan empat manusia prasejarah. Penemuan
pertama berupa tengkorak, kedua bagian belakang atap tengkorak,
ketiga kerangka utuh yang dikubur secara meringkuk, dan terakhir
kerangka agak utuh diduga anak-anak," tutur Koordinator Tim Peneliti
Goa Pawon, Lutfi Yondri, pekan lalu.
Ia menyebutkan, Goa Pawon digunakan sebagai lokasi pertambangan
fosfat dengan melakukan penggalian. Penambangan fosfat di dalam Goa
Pawon sudah tidak sehebat dulu. Sekarang para penambang hanya
mengambil jatuhan-jatuhannya saja.
Sangat disayangkan bila salah satu sumber ilmu pengetahuan yang belum
dikaji lebih jauh lagi ini musnah akibat kegiatan pertambangan.
Mungkin saja dengan terkuaknya misteri kehidupan prasejarah ini
menjadi petunjuk awal untuk mengungkap kehidupan nenek moyang
masyarakat Sunda, dan memberi kontribusi yang sangat berarti bagi
dunia arkeologi Indonesia dan dunia.
Guru Besar Geologi Institut Teknologi Bandung Sampurno mengemukakan,
idealnya Pemerintah Kabupaten Bandung menarik garis tegas, wilayah
mana yang dipakai untuk pertambangan, dan untuk wilayah konservasi
lingkungan serta ilmu pengetahuan. (k02
Penelusuran Gua Keindahan di Kegelapan Sana
Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2002/105/hob1.html
Dicetak Kamis, 08 April 2004 - 21:22:04 WIB dikliping oleh subterra.or.id
Caving atau penelusuran gua, boleh dibilang cukup lama dikenal Indonesia. Persisnya kegiatan ini sudah mulai marak tahun 1980-an, ketika Persatuan Speleologi dan Caving Indonesia (Specavina) dibentuk di Bogor dengan tokoh-tokohnya antara lain dr. Ko King Tjoen, Norman Edwin (alm), Dr. Budi Hartono, dan Effendi Soleman. Mulailah dari sini kegiatan yang jadi hobi baru kala itu menyebar, terutama di kampus-kampus.
Penelusuran Gua
Keindahan di Kegelapan Sana
JAKARTA - Caving atau penelusuran gua, boleh dibilang cukup lama dikenal Indonesia. Persisnya kegiatan ini sudah mulai marak tahun 1980-an, ketika Persatuan Speleologi dan Caving Indonesia (Specavina) dibentuk di Bogor
dengan tokoh-tokohnya antara lain dr. Ko King Tjoen, Norman Edwin (alm), Dr. Budi Hartono, dan Effendi Soleman. Mulailah dari sini kegiatan yang jadi hobi baru kala itu menyebar, terutama di kampus-kampus.
SH/Adiseno
Awal penurunan gua Motusu, Jepang.
Hobi ini agaknya di awal perkembangannya terseok-seok karena yang didalaminya tak melulu keterampilan fisik saja namun juga aspek ilmiahnya.
Selain, peralatan yang dibutuhkan pun sulit dibeli di sini. Specavina, ketika itu pula agak selektif membagi "ilmu" pada peminat. Hanya mereka yang memiliki latar belakang keilmuan atau yang menyukai pengetahuan tentang
speleologi yang boleh bergabung. Specavina sebagai pelopor ketika itu sengaja lebih menonjolkan unsur ilmiahnya (speleologi) ketimbang "olahraganya" (caving).
Salah satu aspek yang harus diketahui penggemar caving adalah pengetahuan dasar geologi. Terutama bagaimana awal gua itu terbentuk, di daerah mana
bisa ditemukan, sifat batuannya, jenis gua, dan sebagainya. Dengan dasar pengetahuan ini, caver (penelusur gua) bisa dengan mudah menemukan gua.
Sebab, mereka hanya akan mendatangi wilayah yang banyak terdapat batu
gamping.
Secara teori demikianlah adanya. Gua banyak terdapat di kawasan batu gamping
(karst). Berbekal pengetahuan itu pula jika bisa membaca peta geologi, maka
di mana saja sebaran daerah karst, di sana tujuan yang tepat untuk
perjalanan melakukan ekspedisi.
Aspek lain yang tak kalah penting adalah biologi gua (biospeleologi). Memang
tak harus menjadi ahli biologi dulu baru bisa menekuni caving. Tapi paling
tidak dengan modal "baca-baca" dulu, penelusur gua bisa membandingkan flora
fauna antara gua yang satu dengan lainnya. Atau mungkin dia menemukan
spesimen baru yang bisa menambah khasanah pengetahuan biologi gua di
Indonesia. Dia pun menjadi tahu bagaimana cara menyimpan koleksi itu dengan
baik sebelum dibawa ke pakarnya untuk diidentifikasi.
Keunikan
Fauna gua terbilang unik. Semuanya beradaptasi dengan lingkungan gelap abadi
tak hanya terbilang puluhan atau ratusan, tapi ribuan tahun. Mereka
berevolusi disesuaikan dengan alamnya yang gelap gulita. Di sebuah gua di
Amerika pernah ditemukan salamander transparan dan tak bermata (eyeless),
bahkan buta (blind). Diduga salamander itu terjebak di dalam gua dan tak
bisa keluar.
Untuk bertahan hidup satwa itu mengembangkan indera peraba dan perasanya
sedemikian rupa untuk menggantikan fungsi matanya. Lama-kelamaan alat
penglihatan itu tertutup selaput karena mubazir.
Begitu pun flora dalam gua yang beradaptasi dengan lingkungan gelap total.
Tumbuhan untuk hidup di permukaan memerlukan sinar matahari. Tumbuhan
berdaun belum pernah dilaporkan ditemukan di dalam gua. Yang lazim dijumpai
adalah aneka jamur yang bentuknya aneh-aneh. Misalnya ada jamur yang
memiliki leher yang panjang, dengan topi kecil namun lunglai.
Di Indonesia penemuan satwa gua yang terbilang sensasional pernah terjadi.
Tapi sayangnya itu tak tercatat di lembaga resmi pemerintah atau
internasional. Di tahun 1980-an, persisnya tahun berapa sudah .lupa, klub
penelusur gua Garbhabhumi dari Jakarta ketika terjadi gerhana matahari
total, masuk ke Gua Ngerong di Tuban, Jawa Timur. Bentuk gua itu adalah gua
air yang merupakan sungai.
Klub yang dipimpin Norman Edwin (alm) saat itu menerobos masuk dan melawan
arus dengan perahu karet. Tak sampai satu kilometer, mereka terbentur air
terjun. Setelah memanjat air terjun, langkah mereka terhenti sebab di bagian
atasnya terdapat mata air. Lorong itu mungkin bisa ditelusuri lebih jauh,
namun memerlukan teknik dan peralatan diving. Diputuskan ketika itu untuk
stop dan kembali ke luar.
Di bagian inilah mereka secara tak sengaja melihat kelap-kelip di dalam air
yang memantul dari sinar lampu. Ternyata barang yang mengkilat itu adalah
ikan. Setelah dipelototin lebih dekat lagi, ikan itu tak bermata dan
transparan.
Dibalut rasa girang, spesimen itu dibawa ke Jakarta untuk diidentifikasi.
Beberapa bulan ikan yang mirip anak tawes itu masih hidup dalam akuarium
yang dikondisikan seperti di alamnya oleh Riza Marlon (kini juru foto
profesional).
Oleh Yatna Supriatna, kini doktor biologi, temuan itu diidentifikasi sebagai
Puntius microps. Sebagai pembanding, satwa eyeless di gua di Amerika atau
Eropa baru dijumpai di kedalaman puluhan kilo sampai ratusan. Tapi di Tuban,
tak sampai 2 kilometer. Mungkin ini bisa menjadi bahan kajian ilmuwan kita
yang tertarik pada cave biology. Jika di sana, gua bisa melahirkan ratusan
doktor, mengapa di sini tak bisa? Takut gelapkah, becek dan bayangan mistis
tentang gua yang mengakibatkan orang enggan berurusan dengannya?
Pemetaan Gua
Masuk gua memang bukan sekadar masuk dan mengagumi keindahan di dalamnya
saja. Namun banyak yang harus dikerjakan. Apalagi ketika zaman itu belum
banyak perkumpulan penelusur gua sehingga untuk mengklaimnya harus
dibuktikan dengan peta dan foto-foto. Keakuratan peta sebuah gua dilihat
dari siapa yang membuatnya. Sayangnya kebanggaan dan semangat untuk membuat
peta gua oleh klub-klub caving di Indonesia, melempem.
Hal ini berbeda dengan kondisi klub penelusur gua di luar negeri. Mereka
begitu getol menyusun peta gua hingga ke hal yang detail. Sampai akhirnya
tercipta lambang-lambang khusus dalam pemetaan gua yang jelimet. Jika ada
hal khusus yang ditemukan, misalnya speleothems (bentukan gua seperti
stalaktit, stalakmit, gourdam, straws, pearls cave dan sebagainya) yang
mungkin istimewa bentuknya, biasanya peta itu dibuat irisan dengan gambar
detail atau lambang. Di peta tersebut biasanya tercantum grade, semakin
tinggi angka yang tercantum dalam grade itu maka semakin akurat peta itu
dibuat.
Di sana yang enak adalah generasi selanjutnya. Jika ingin masuk gua tinggal
masuk dengan panduan peta. Namun penelusur di sana bukan sekadar mengikuti
petunjuk peta.
Bila denah yang dibuat sebelumnya ada kesalahan maka akan dikoreksi dan
dilaporkan ke paguyuban penelusur gua. Maka tak mengherankan jika kini
hampir pasti peta gua di negara-negara maju, akurat. Semua gua sudah
terpetakan yang diikuti dengan data base yang lengkap.
Saking lengkapnya, mereka bisa tahu mana gua yang terpanjang atau yang
terdalam di dunia. Gua yang terdalam dan sampai kini belum terpecahkan
rekornya adalah Voronja Cave di Georgia, pecahan bekas Uni Soviet, yakni
1.710 meter.
Bayangkan untuk menuruninya berapa panjang tali yang dipakai dan berapa lama
waktu yang diperlukan untuk sampai ke dasar gua. Sementara gua yang
terpanjang dan kompleks sekali lorong-lorongnya adalah Mammoth Cave di
Amerika Serikat yakni, 563,270 km dan dalamnya -116 m. Lebih lengkapnya
silakan klik www-sop.inria.fr/agos-sophia/sis/DB/database.html. Di sini ada
sedikit data gua di Indonesia.
Kabar bahwa pemetaan gua tak begitu berjalan di Indonesia, sudah bisa
dimaklumi. Karena penggemar caving di sini cenderung menyukai dari sisi
olahraga dan petualangannya. Aspek ilmiah bukannya tak menarik, tapi kurang
menguasai. Pakar biologi atau geologi yang sesungguhnya di Indonesia, adakah
yang membangun tesis dari gua? Kalaupun ada mungkin jumlahnya tak sampai
hitungan jari sebelah tangan.
SH/Adiseno
Di dalam gua bekas aliran lahar Gunung Fuji, Jepang.
Incaran Dunia
Potensi gua di negeri ini sebetulnya tak kalah menarik dengan yang ada di
luar negeri. Ketika tahun 1980-an, wilayah ini menjadi incaran caver dunia.
Berbagai cara mereka lakukan untuk bisa caving di sini, namun terbentur
peraturan yang menyebutkan peneliti asing harus seizin LIPI. Adanya
peraturan itu sebetulnya ada bagusnya. Mereka jadi tak seenaknya
"mengeksplorasi" gua di Indonesia. Sayangnya, kesempatan itu tak dipakai
oleh penelusur gua kita untuk menjadikan dirinya sebagai yang pertama.
Belakangan seorang ahli geologi yang juga seorang caver berkebangsaan
Inggris, Tony Waltham, masuk lewat jalur sebuah departemen. Dia datang konon
membantu pengairan di daerah Gunung Kidul yang tandus.
Sebagai pakar geologi, dia tahu betul bahwa air di sana hanya dijumpai di
sungai bawah tanah alias di dalam gua-gua. Dia pun paham bahwa Gunung Kidul
adalah kawasan karst yang nota bene adalah sarangnya gua yang belum
diutak-atik oleh caver mana pun. Sepulangnya dari Indonesia tak lama
kemudian terbitlah buku tentang gua-gua di sana, berikut foto-foto yang
menawan.
Potensi gua yang masih menjanjikan, menurut peta geologi terletak di
Sulawesi dan Papua. Tapi yang menantang adalah yang di Papua. Di peta
tertulis selain kawasan karstnya luas, juga "ketebalannya" mencapai ribuan
meter. Artinya, jika ada gua vertikal (pothole) di Papua maka kedalamannya
berpotensi mengalahkan Gua Voronja di Georgia! (SH/gatot irawan )
Ada Harta Karun di Sawarna
Written by Lusia Kus Anna
Sunday, 24 July 2005
Ada legenda yang menyebutkan bahwa terdapat harta karun dalam jumlah sangat banyak di wilayah segitiga emas yang meliputi Cikotok - Halimun - Sawarna. Cikotok, hingga kini dikenal sebagai daerah penghasil emas. Halimun, memiliki hutan tropis yang masih lebat dan terjaga karena ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan taman nasional--konon, di dasar lembah Halimun tersimpan emas. Lalu, bagaimana dengan Sawarna ? Didorong oleh rasa penasaran tentang cerita harta karun itulah, bersama teman-teman dari milis Pangrango, Saya mencoba mencari tahu harta karun di desa yang terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Jawa Barat tersebut. Lantaran jarak tempuh dari Jakarta berkisar 230 km itulah, membuat kami memilih waktu keberangkatan malam hari agar sampai di sana pagi-pagi sekali. Pada Sabtu (17/Juli), kami pun menembus pekatnya malam melintasi kota Pandeglang, Malingping, Lebak, Bayah sampai akhirnya tiba di Sawarna. Selepas daerah Bayah, keindahan pantai dengan pasirnya yang putih dan berkarang seolah memberi janji kepada kami akan keindahan alam yang sebentar lagi akan kami nikmati di Sawarna. Rasa lelah karena kaki harus ditekuk selama lebih dari empat jam mendadak sirna ketika mata kami dihibur oleh buih-buih ombak yang menjilati bibir pantai. Matahari mulai menampakkan sinarnya, udara sejuk seperti di pegunungan dengan puas kami hirup ketika kendaraan kami melintasi deretan hutan jati di pintu desa. Turun dari mobil, kang Hendi yang menjadi guide kami selama di sana sudah menyambut. Kami menuju rumah Kang Hendi melewati jembatan gantung dari kayu yang akan bergoyang jika kita lewati. Saya agak ngeri, terlebih jika mengingat sungai yang cukup dalam di bawah jembatan. Sampai di rumah Kang Hendi, dengan lahap kami menyantap makanan yang dihidangkan berupa nasi putih, pepes ikan, telur pindang, dan gulai ayam. Selesai beristirahat sebentar, kami berjalan menuju goa Cilalay. Sampai di ujung desa, kami berbelok melewati areal persawahan dan menyeberangi sungai selebar 10 meter. Kali ini tanpa jembatan, terpaksa kami mencebur ke dalam sungai. Untunglah permukaan air hanya sebatas lutut. Hemm... riak air dan batu-batu di dasarnya menyegarkan kaki kami yang mulai kepanasan karena teriknya matahari.
Penelusuran Goa
Tak lama kemudian, kami sudah sampai di mulut goa. Sepintas kita tidak akan menyadari ada goa di tempat itu karena agak tertutup ilalang. Berbekal senter dan petromak, satu persatu kami memasuki goa. Bagian bawah goa merupakan sungai setinggi lutut dan berlumpur dengan ketebalan 10-15 cm. Langit-langit goa masih cukup tinggi sehingga kami masih bisa berjalan tegak. Dua puluh menit berjalan, kami sampai di sebuah chamber (ruangan besar), di atas kami kalelawar atau lalay dalam bahasa Sunda terlihat bergerombol, jumlahnya mungkin ribuan. Beberapa terbang ketika senter kami terarah ke badannya. "Silakan dipotret, tapi jangan diganggu dan jangan terlalu berisik, karena suara terlalu keras dan bergema bisa membuat goa bergetar" pesan Kang Hendi kepada kami. Ia juga menjelaskan kotoran lalay tersebut sering dikumpulkan oleh penduduk sekitar untuk dijadikan pupuk. Di lantai goa memang terlihat karung-karung yang diatur di pinggir, mungkin belum sempat diambil. Ada beberapa lorong di sekitar chamber, jika tanpa didampingi guide bisa saja kami memilih lorong yang salah. Mungkin salah satunya mengarah ke tempat persembunyian harta karun, gumam Saya dalam hati. Kami melanjutkan penelusuran, kali ini melewati lorong gelap dan sempit, sumber cahaya hanya berasal dari petromak dan senter yang kami bawa, di beberapa tempat kami terpaksa merangkak dan berjalan jongkok. Tampak stalaktit yang indah di langit goa, sebuah fenomena alam yang terbentuk dari tetesan air mengandung mineral selama ratusan tahun. Namun keindahan itu akan jadi petaka jika tidak berhati-hati berjalan. Bisa-bisa kepala terantuk. Inilah pentingnya helm jika menyusuri gua. Ornamen di dalam gua membuat kami terkagum-kagum, terutama bagi peserta yang baru kali ini caving (menelusuri gua) seperti Saya. Sayang sekali penelusuran tidak bisa dilakukan sampai ujung gua, karena minimnya peralatan. Padahal menurut Kang Hendi, untuk sampai di mulut gua yang lain bisa menghabiskan waktu hampir 12 jam. Udara yang tipis membuat kami kepanasan, meski sudah memakai kaus yang terbuat dari katun, keringat tetap membanjiri tubuh kami. Tak terasa sudah dua jam kami berada di perut bumi. Sampai di mulut goa kami melihat cahaya matahari. Alangkah senang hati ini. Terbersit pula rasa syukur akan udara yang dengan bebas dapat kami nikmati setiap harinya. Kami memang telah meninggalkan Goa Lalay. Tapi rahasia tentang isi goa dan--barangkali penghuni di dalamnya--masih menjadi teka-teki bagi kami. Dalam perjalanan kembali ke desa, Kang Hendi menjelaskan bahwa di Sawarna ada banyak goa, jumlahnya mungkin belasan. Namun yang pernah di eksplorasi hanya beberapa. Di antaranya Goa Camaul, Goa Kadir, Goa Langir dan Goa Cicayur. Penduduk sekitar sepertinya tidak berminat menjelajahi goa, ditambah adanya mitos bahwa goa-goa tersebut ada penunggunya. Namun tidak demikian halnya dengan para Cavers, yang pasti akan penasaran dan mengagumi isi goa. Sebelum sore, kami berangkat menuju guest house di pinggir pantai Ciantir yang akan menjadi tempat kami menginap. Jaraknya hanya 15 menit berjalan kaki dari kampung melewati deretan kebun kelapa dan lagi-lagi sawah subur menghijau. Seperti umumnya pantai selatan, pantai Ciantir memiliki pasir putih dan ombak yang besar. Sore itu tampak dua orang bule duduk menikmati kelapa muda yang dipetik sendiri, di sampingnya diletakkan papan selancar. Mereka baru saja surfing. Rupanya cerita tentang besarnya ombak di pantai-pantai Sawarna sudah sampai ke telinga mereka, jika mereka terkesan bukan tak mungkin cerita tentang Sawarna akan diteruskan kepada yang lain. Kami menikmati malam dengan duduk beralaskan tikar di depan guest house tanpa penerangan listrik. Deburan ombak menjadi suara latar obrolan kami dengan teman-teman. Tempat yang sunyi, jauh dari hiruk pikuk dan sibuknya kota. Sayangnya rencana untuk tidur di atas pasir sambil melihat jutaan bintang tidak dapat terlaksana karena malam itu gerimis turun.
Laboratorium Alam
Pagi hari kami masih sempat menengok pelelangan ikan tak jauh dari tempat kami menginap. Tak seperti laiknya pelelangan ikan yang ramai, tempat ini tergolong sepi. Perahu yang merapat berjumlah tidak sampai sepuluh. Nelayan yang membawa ikan segar dari laut sudah ditunggu pembeli dari kampung. Sekitar jam sembilan pagi semua ikan sudah laku terjual dan kegiatan pelelangan pun berakhir. Acara kami hari itu adalah menuju pantai Tanjung Layar. Kami berangkat ketika matahari belum tinggi. Saat menyusuri pinggiran pantai yang berkarang, sampah di pinggir pantai hanya ganggang laut, kulit kerang dan batok kelapa kering. Di sini, tak kami temui sampah plastik yang mengindikasikan jarang sekali orang datang ke tempat ini. Beberapa kali kami terpaksa berhenti karena terpesona oleh birunya laut dengan ombaknya yang bergulung-gulung setinggi hampir tiga meter. Tebing menjulang yang disebut tanjung layar tampak mencuat terkembang bak layar kapal. Meskipun ombak dari laut tertahan oleh tanjung layar, namun di sekitar pantai banyak karang. Jika pasang arus air cukup kuat, sehingga berbahaya untuk dipakai berenang. Tapi...amboy..., air di sini sangat jernih. Kami bisa melihat ikan kecil berwarna-warni berenang di antara cekungan karang, juga rumput laut. Saat kami datang, air laut sedang surut, sehingga kami dapat dengan leluasa menjelajahi bagian bawah tebing. Ketika menjelajahi Tanjung Layar, kami tidak saja terkesan oleh pantainya namun juga susunan batuannya. Uniknya, formasi batuan tertata rapi membentuk ornamen melingkar bagai spiral. Fakta ini, konon, dapat menjadi indikasi bahwa tempat tersebut dulunya adalah kawah gunung api dasar laut. Tak heran batuan di kawasan tebing Tanjung Layar gembur berkapur hasil rautan geologis . Menurut para ahli, jutaan tahun yang lalu terdapat gunung api dasar laut yang kemudian terdesak oleh gerakan tektonik dan membentuk pulau Jawa. Jika bisa bicara, dataran yang kami injak pastilah bisa bercerita banyak. Sawarna berasal dari kata Suarna. Artinya emas. Ada atau tidak simpanan lempengan emas di bumi Suarna, yang terang wilayah ini menyimpan potensi sangat berharga. Tidak saja keindahan panorama alamnya, namun tempat ini juga bisa menjadi laboratorium alam yang luar biasa untuk belajar ilmu geografi dan geologi. Semoga saja pemerintah bersedia mengembangkan potensi tersebut menjadi daerah tujuan wisata sekaligus bahan penelitian. Kini, tahulah kami, mengapa ada legenda yang menyebutkan ada harta karun di Sawarna.
Lusia Kus Anna
Sumber : KCM
ndahnya Pesona Ruang Bawah Tanah
Kebayang enggak, sebuah ruang di bawah tanah yang sangat gelap dan pengap, yang sering disebut "goa", ternyata cantik banget. Kita enggak akan tahu kalau tidak masuk ke sana.
Selain pembentukannya yang membutuhkan waktu ribuan tahun, ornamen-ornamen yang tercipta di dalam goa menjadikan tempat ini begitu asyik untuk dikunjungi. Karena keindahannya itu, membuat manusia beberapa abad lalu mencoba mempelajarinya.
Goa merupakan suatu ruang bawah tanah yang bisa membuat kita begitu takjub. Misteri yang terkandung di dalamnya merupakan sebuah daya tarik tersendiri. Hampir di semua goa yang ada di Indonesia, bahkan di dunia, mempunyai cerita legendanya sendiri.
Pesona-pesona yang ada memang tak dapat dianggap enteng. Penuh kejutan. Ketika masuk ke dalamnya dengan membawa alat penerangan, kita tak bisa menduga apa gerangan yang akan kita temui di lorong berikutnya. Mungkin saja ada sungai bawah tanah, atau kolam tenang, bisa jadi malah lubang yang menganga yang kita tidak tahu berapa kedalamannya. Mungkin juga kita akan menemukan adanya ruangan besar yang dihiasi oleh seni pahatan (ornamen) yang tidak bisa dibuat manusia.
Apabila kita masuk lebih dalam lagi, hening, tidak ada embusan angin, alat penerangan dimatikan, dan kita berdiam diri. Maka, kita berada dalam keadaan gelap yang mencekam. Sampai-sampai, jika tangan kita dekatkan ke mata, kita tidak akan melihat sama sekali, seolah-olah buta. Inilah keadaan goa yang sesungguhnya: gelap, sunyi, dan senyap. Hanya beberapa binatang, seperti kelelawar dan burung walet yang mungkin berseliweran di lorong-lorong yang ada. Sisanya sepi!
Goa juga memiliki sifat yang khas dalam mengatur suhu di dalamnya. Jika udara di luarnya panas, keadaan di dalam akan sejuk, begitu pula sebaliknya, jika udara di luar dingin, di dalam akan terasa hangat. Sifat ini yang menjadikan goa sebagai tempat berlindung bagi sebagian makhluk hidup.
Goa yang banyak ditemukan merupakan lintasan air di masa lampau yang kini telah kering. Jenis tersebut dikategorikan sebagai Goa Fosil. Adapun goa yang masih dialiri air sampai sekarang disebut Goa Aktif. Oleh karena itu, mengetahui goa tidak terlepas dari karst sebagai pembentuknya. Dengan mempelajari hidrologi karst dan segala fenomena karst di bawah permukaan (endokarts), kita dapat memahami bagaimana goa terbentuk dan bagaimana memanfaatkannya. Nilai estetika goa sebagai obyek wisata atau sebagai sumber air tanpa mencemarinya pun bisa kita ketahui.
Proses pembentukan
Hampir semua goa yang ada dibentuk dari karst (dari bahasa Slavia Krs/Kras yang berarti batu-batuan). Istilah karst dipakai untuk suatu kawasan batu gamping (limestone) yang telah mengalami pelarutan sehingga menimbulkan relief dan pola pengaliran yang khas. Hal ini dicirikan dengan adanya proses geokimia dan kehadiran atmosfer, biosfer, dan hidrosfer sekaligus.
Sejarah geologi karst dimulai pada zaman karbon (sebutan untuk sebuah masa di 354-290 juta tahun lalu) akhir, hingga Perm (290-248 juta tahun lalu) awal yang menimbulkan batuan tertua. Umumnya pada akhir masa Perm awal, terjadi aktivitas tektonik berupa pengangkatan dan pelipatan satuan sabak serta timbulnya sesar mendatar.
Pada zaman Trias (248-206 juta tahun lalu) awal, terjadi proses susut laut yang membentuk morfologi batu gamping. Ini akan diikuti dengan intrusi ke permukaan yang menerobos batu gamping, hingga mengakibatkan batu gamping menjadi marmer. Akibat proses gaya-gaya geologi yang berpengaruh, akan terbentuk struktur rekahan yang disebut diaklas, yakni jalur resapan air permukaan dan membentuk morfologi karst. Hal ini akan terus terjadi, entah sampai kapan berakhirnya.
Sejarah penelurusan
Secara resmi tidak ada catatan kapan manusia mulai menelusuri goa. Hanya saja, berdasarkan peninggalan berupa sisa-sisa makanan, tulang-belulang, dan lukisan-lukisan yang ada, disimpulkan bahwa manusia sudah mengenal goa sejak puluhan abad silam. Yang terbesar terjadi di Benua Eropa, Afrika, dan Amerika.
Menurut catatan yang ada, penelusuran goa dimulai oleh John Beaumont dan Somerset dari Inggris (tahun 1674). Mereka merupakan ahli tambang dan geolog amatir, yang kemudian tercatat sebagai orang pertama yang menelusuri Goa Sumuran (Potholing) sedalam 20 meter dan menemukan ruang sepanjang 80 meter, lebar 3 meter, dan ketinggian plafon 10 meter. Cukup dengan menggunakan penerangan lilin. Menurut catatan, Beaumont merangkak sejauh 100 m dan menemukan jurang (internal pitch). Ia mengikat tambang pada tubuhnya dan minta diulur sedalam 25 meter. Mereka melaporkan temuan ini pada Royal Society, Lembaga Pengetahunan Inggris.
Selanjutnya keinginan untuk mengetahui goa telah tersebar di Benua Eropa. Seorang penduduk desa asal Silvenia, Baron Johann Valsavor (sekitar tahun 1670-1680) telah mengunjungi 70 goa dan berhasil membuat peta goa-goa tersebut dalam bentuk sketsa. Dia Juga berhasil merangkum penelusurannya dalam empat buku setebal 2800 halaman.
Selain itu pada abad XIX, seorang Belgia yang bernama Alfred Martel telah mulai memperkenalkan penelusuran goa dengan peralatan. Pada setiap musim panas, ia dan teman-temannya mengunjungi goa dengan membawa 2 gerobak penuh peralatan, bahan makanan, dan alat fotografi. Martel juga yang mendesain pakaian berkantong banyak (sekarang disebut Coveral) untuk memenuhi kebutuhan petualangan goanya. Kantong ini diisi dengan peluit, batangan magnesium, lilin besar, korek api, kompas, buku catatan, P3K, makanan, dan sebotol rum. Sistem penyelamatan yang ia gunakan adalah dengan mengikatkan dirinya pada tali bila naik ataupun turun.
Pada tahun 1889, Martel berhasil menginjakkan kakinya pada kedalaman 233 meter di Goa Ranabel, dekat Marseille, Perancis. Selama 45 menit ia bergantungan di kedalaman 90 meter. Ia juga mengukur ketinggian atap dengan balon dan kertas yang digantungi spons yang dibasahi alkohol. Begitu spons dinyalakan, balon akan terangkat ke atas mencapai atap goa.
Baru setelah Perang Dunia I, Robert De Jolly dan Nobert Casteret mampu mengimbangi Martel. Robert De Jolly mampu menciptakan peralatan dari aluminium alloy. Adapun Nobert Casteret merupakan orang yang pertama melakukan cave diving pada tahun 1922, dengan menyelam Goa Montespan. Di dalam goa tersebut ditemukan patung-patung dan lukisan binatang dari tanah liat, yang menurut para ahli digunakan untuk upacara ritual para manusia purba sebelum perburuan dimulai.
Tapi tetap saja, kepeloporan Martel dalam mempelajari goa belum terbandingi. Tidak salah kalau dia dinobatkan sebagai bapak speleologi.
Lahirnya speleologi
Speleologi sendiri merupakan istilah bagi ilmu yang mempelajari goa-goa. Kata speleologi diambil dari Bahasa Yunani (spelaion = goa, dan logos= ilmu). Namun, karena goa itu adalah bentukan alam yang tidak berdiri sendiri dan dipengaruhi oleh faktor struktur alam yang melingkupinya, ilmu speleologi merupakan ilmu yang mempelajari goa dan lingkungannya.
Lingkungan itu dapat berupa batu gamping, batu pasir (sandstone), aliran lava yang telah membeku, gletser, padang salju atau es, batu garam (halit), batu gips, dolomit, tebing di tepi laut atau danau, dan sebagainya.
Di Indonesia, ilmu speleologi merupakan ilmu yang terbilang baru, diperkenalkan tahun 1979. Adapun di Perancis dan Jerman, ilmu ini dipelajari sudah sejak abad ke-19 dan telah mengalami perkembangan pesat.
Pada tahun 1980, berdirilah sebuah klub penelusur goa pertama di Indonesia yang bernama Specavina, dipelopori oleh Norman Edwin dan Dr RKT Ko. Sejak itu klub-klub sejenis pun mulai bertumbuhan. Sebut saja macam BSC (Bogor Speleologi Club), DSC (Denpasar Speleologi Club), SCALA (Speleo Club Malang), ASC (Acintacunyata Speleological Club), dan lain-lain. Klub-klub ini membuat kegiatan penelusuran goa semakin berkembang. Hingga akhirnya telah menjadi sebuah divisi khusus dan mata pelajaran wajib di kelompok-kelompok pencinta alam.
Etika "caver"
Sebagai seorang penelusur goa, kita harus sadar bahwa goa merupakan lingkungan yang sangat sensitif dan mudah tercemar. Untuk itu kita harus tetap berpegang pada pepatah kuno yang mengatakan, "jangan mengambil sesuatu kecuali foto" (take nothing but picture), "jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak" (leave nothing but footprint), dan "jangan membunuh sesuatu kecuali waktu" (kill nothing but time).
Setiap penelusur juga harus sadar bahwa setiap bentukan alam di dalam goa terjadi dalam kurun waktu ribuan tahun. Untuk itu, setiap usaha mengambil/memindahkan sesuatu tanpa tujuan jelas akan mengakibatkan kerugian yang tidak dapat ditebus. Kebayang tidak, dengan mengambil sedikit serpihan kecil saja dari goa, kita telah merusak sebuah bentukan bumi berusia ribuan tahun.
Setiap penelitian maupun penelusuran harus dilakukan secara respek, tanpa mengganggu dan mengusir kehidupan biota goa. Semua peralatan yang digunakan pun harus ramah lingkungan. Tidak seperti yang selama ini dilakukan di goa-goa wisata, di mana penelusuran dilakukan dengan obor yang dapat mengganggu kehidupan biota goa. Coba kita pikir, asap obor saja dapat membuat kita sesak napas ketika berada di dalamnya, apalagi biota goa yang ada. Belum lagi jelaga hitam akibat obor telah menimbulkan bercak hitam di langit-langit goa.
Penelusuran goa juga harus sadar bahwa kegiatan speleologi, baik ditinjau dari segi olahraga maupun ilmiah, bukan usaha yang perlu dipertontonkan dan tidak butuh penonton. Selain itu dalam penelusuran, para cavers (penelusur) harus bertindak sewajarnya. Makanya, seorang caver tidak memandang rendah kemampuan sesama caver. Sebaliknya, seorang caver dianggap melanggar etika bila memaksakan diri untuk melakukan tindakan di luar batas kemampuan fisik dan mentalnya.
Adapun kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang penelusur goa adalah menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan goa. Konservasi lingkungan goa merupakan tujuan utama speleologi yang dilakukan sebaik-baiknya. Lalu setiap penelusur haruslah minta izin terlebih dahulu kepada penduduk setempat jika ingin melakukan eksplorasi.
Untuk keamanan dan birokrasi, setiap caver dapat meminta izin dari instansi terkait dan membuat laporan ke instansi tersebut untuk keselamatan penelusuran. Dilarang memamerkan benda-benda mati/hidup yang didapat dari goa, sebelum yakin betul ada usaha perlindungan dari yang berwenang. Hal ini untuk menghindari keinginan orang untuk mengambil sesuatu dari dalam goa.
Vandalisme goa
Vandalisme goa adalah kerusakan goa yang diakibatkan oleh tindakan manusia secara sengaja. Tindakan dan akibat usaha perusakan goa dan lingkungannya ini dilakukan secara sengaja, disadari atau tidak terhadap estetika, ekosistem, fisik, dan biota goa.
Pelaku vandalisme goa memang tak terbatas pada penelusur goa musiman saja. Namun, termasuk juga mereka yang menambang fosfat, berakibat pada rusaknya kestabilan goa dan pencemaran sumber air karst. Lalu tindakan para pengunduh sarang burung walet, yang bisa membuat timbulnya ledakan populasi hama. Juga pemburu kelelawar, yang bisa mengganggu penyerbukan pada tanaman yang dilakukan kelelawar. Termasuk para kontraktor pembangunan fisik dan pengelola goa, yang sering tidak sadar pada coretan-coretan dinding oleh pengunjung. Bahkan, ilmuwan yang kurang hati-hati dalam melakukan sampling juga dapat mengakibatkan rusaknya lingkungan goa.
Nah, setelah tahu betul proses terbentuknya goa selama ribuan tahun, dan mengerti estetika yang harus dijalankan, serta kerusakan yang mungkin terjadi, kita harus selalu berupaya menekan seminimal mungkin akses negatif akibat penelusuran. Semoga saja pesona goa-goa yang ada tetap lestari dan masih bisa dinikmati oleh kita dan generasi mendatang.
Jekson Simanjuntak Mapala PARINTAL FP-USU
style="FONT-SIZE: 16pt; mso-bidi-font-size: 10.0pt">MEMBANGUN KEMAMPUAN
MANAJEMEN PENDIDIKAN MELALUI PEMANFAATAN
TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN
INFORMASI style="FONT-SIZE: 16pt; FONT-WEIGHT: normal; mso-bidi-font-size: 10.0pt">
DALAM
RANGKA OTONOMI DAERAH DAN
OTONOMI PENDIDIKAN
Oleh :
style="mso-spacerun: yes"> Prof.Dr.Azis Wahab,M.A.(Ed)
Direktur
Program Pascasarjana
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
style="FONT-SIZE: 12pt; mso-bidi-font-size: 10.0pt">
Assalamu Alaikum Warachmatullahi Wabarakatuh
Yang terhormat:
Bupati Kepala Daerah Tk.II Garut
Dewan
Penyantun STKIP dan AMIK Garut
Ketua DPRD Tk.II Garut
Anggota Senat STKIP
dan AMIK Garut
Ketua STKIP dan AMIK Garut
Ketua Kopertis Wilayah IV Jawa
Barat
Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah
IV
Pimpinan Perguruan Tinggi Kabupaten Garut
Pembantu Gubernur Wilayah
Priangan
Danrem 062 Tarumanegara
Kapolwil Priangan
Pimpinan PGRI
Daerah/Cabang Garut
Ketua Yayasan Pendidikan Garut
Unsur-unsurstyle="mso-spacerun: yes"> Muspida Kab.Dati II
Garut
Kandepdiknas/Dinas Diknas Kabupaten Garut
Pejabat Instansi, Dinas,
Sipil maupun Polri dan TNI , hadirin undangan yang saya hormati,
Para
dosen,
Wisudawan/Wisudawati serta keluarga yang amat kami cintai
Pertama-tama saya sampaikan rasa terima kasih yang setulus
tulusnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kepercayaan yang diberikan
kepada saya untuk menyampaikan Orasi Ilmiah dalam rangka pelaksanaan Wisuda X
STKIP Garut dan Wisuda I AMIK Garut. Dalam acara upacara yang berbahagia ini
marilah kita panjatkan puja dan puji serta rasa syukur kehadirat Allah Subhanahu
Wataala yang berkat rakhmat dan karunia-Nya kita dapat melaksanaan acara ini
sebaik-baiknya.
style="mso-bidi-font-style: normal">Hadirin para undangan yang
berbahagia.
Pada Orasi Ilmiah ini saya akan berusaha mengetengahkan
beberapa aspek penting tentang kaitan antara teknologi komunikasi dan informasi
dengan peningkatan kemampuan manajemen di bidang pendidikan dalam menyongsong
otonomi daerah. Hal itu dimaksudkan sebagai salah satu upaya pengembangan
gagasan guna membangun suatu kesiapan perangkat pendidikan yang ada di daerah
dalam menyongsong pelaksanaan otonomi daerah yang akan datang. Sesuai dengan apa
yang disampaikan pemerintah tentang otonomi daerah, ditegaskan bahwa
pelaksanaannya adalah pada Januari 2001, atau tiga bulan dari sekarang. Tiga
bulan bukanlah waktu yang panjang bagi upaya persiapan yang baik bagi
pelaksanaan sebuah sistem yang akan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan secara
keseluruhan.
Situasi tersebut membawa kita
kepada keadaan yang sejalan dengan kecenderungan global yang ditandai dengan era
informasi, era keterbukaan, era demokratisasi, deregulasi dan desentraralisasi.
Namun demikian euphoria kebebasan dan perubahanstyle="mso-spacerun: yes"> ini jangan sampai membawa kita sebagai
bangsa tenggelam di dalam perubahan-perubahan yang amat cepat itu tetapi
bagaimana kita sebagai individu dan kelompok baik pada tingkat lokal, nasional
maupun global memposisikan diri dalam menghadapi gejolak perubahan tersebut.
style="mso-bidi-font-style: normal">Hadirin para undangan yang
berbahagia.
Gejolak perubahan yang penuh
dengan ketidakpastian itu membawa kita semua kepada upaya memilih dan menetapkan
alternatif-alternatif yang paling baik bagi setiap orang. Dalam menghadapi
perubahan yang cepat tersebut satu-satunya cara untuk tetap dapat berada pada
posisi yang baik dalam situasi perubahan yang begitu cepat dan hampir-hampir tak
terkendalikan itu adalah “belajar secara cepat” pada semua bidang kehidupan tak
terkecuali bidang pendidikan.
Kecepatan perubahan yang
diistilahkan dengan “accellerated
change”, ‘tumultuous change.” “rapid change” para akhli menuntut kepada kita
semua yang hidup dalam abad informasi, era globalisasi yang diwarnai oleh
revolusi teknologi komunikasi dan informasi mendorong setiap individu, lembaga
dan organisisasi serta institusi pendidikan untuk melakukan style="mso-bidi-font-style: normal">repositioning agar senantiasa dapat style="mso-bidi-font-style: normal">exist dalam era yang penuh dengan style="mso-bidi-font-style: normal">“uncertainty”, “continuity” dan
“confrontation” yang jika tidak dihadapi dengan penuh kearifan, kesiapan dan
“kecerdasan” akan membawa malapetaka yang akan sulit mengatasinya.
Untuk itu diperlukan alat yang
tepat dan manajemen yang baik agar
keberadaan kita dalam situasi itu selain dapat mengikuti juga sekaligus
diharapkan dapat mempengaruhi dan mengarahkanstyle="mso-spacerun: yes"> perubahan itu. Kemampuan itu hanya dapat
dimiliki dengan memahami sebaik-baiknya perilaku dan sifat teknologi komunikasi
dan informasi agar dapat dimaksimalkan pemanfaataannya bagi berbagai kepentingan
dan khususnya di bidang pendidikan
Kesemua itu hanya mungkin dilakukan selain dengan memahami
perilaku dan sifat teknologi komunikasi dan informasi juga harus dipahami dengan
sebaik-baiknya kaitan yang kuat antara teknologi komunikasi informasi dengan
pendidikan. Peranan teknologi informasi dapat dimaksimalkan dengan mengkaji
kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan untuk pendidikan dengan
memanfaatkannya secara maksimal. Perannya dalam berbagai segi kehidupan umumnya
telah banyak dikenal atau bahkan telah digunakan oleh berbagai kalangan tidak
terkecuali dalam bidang pendidikan.
Itulah sebabnya percepatan dalam
perubahan harus diimbangi dengan kecepatan dalam belajar sebab milenium III
lebih diwarnai oleh perubahan kecenderungan yang amat kuat dari mengajar
kepada belajar sebagaimana telah dikemukakan oleh Rose dan Nicholl (1997)
di mana manpower telah digantikan
perannya oleh mindpower/brain
power/intellectualpower sebab
perubahan-perubahan yang cepat termasuk apa yang disebut revolusi teknologi
komunikasi dan informasi ditandai dengan perubahan yang cepatstyle="mso-spacerun: yes"> (accellerated change) dan untuk itu
perlu diimbangi dengan kecepatan di dalam belajar (accellerated learning).
Kecepatan didalam belajar dapat
dilakukan antara lain dengan memperhatikan prinsip-prinsip berikut :
style="MARGIN-LEFT: 0.25in; TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: -0.25in; mso-list: l3 level1 lfo9; tab-stops: list .25in">1.style="FONT: 7pt 'Times New Roman'"> belajar
bagaimana belajar (learning how to learn);
2.style="FONT: 7pt 'Times New Roman'"> memahami
dengan baik teknik belajar sendiri (natural learning style);
3.style="FONT: 7pt 'Times New Roman'"> memiliki
kemampuan/keterampilan dalam memanfaatkan teknologi informasi;
4.style="FONT: 7pt 'Times New Roman'"> mengkaji
informasi dengan cepat, memahaminya dan diingat dengan baik.
Mengkaji dan mengimplementasikan
prinsip-prinsip di atas diharapkan
dapat membantu percepatan dalam belajar yang juga sekaligus merupakan
tuntutan era informasi yang dipacu lebih cepat melalui revolusi teknologi
komunikasi dan informasi sebagaimana telah diutarakan. Karena itu
prinsip-prinsip di atas juga sekaligus merupakan langkah-langkah penting yang
perlu dikaji dalam pelaksanaan desentralisasistyle="mso-spacerun: yes"> daerah dan otonomi pendidikan yang
didasari oleh pendidikan yang
berbasis masyarakat (Community-Based Education – CBE) dan pada akhirnya mengarah
pada pengelolaan berbasis sekolah (School-Based Management).
style="mso-bidi-font-style: normal">Hadirin para undangan yang
berbahagia.
Memanfaatkan berbagai kemudahan dari teknologi komunikasi
dan informasi hanya mungkin terjadi jika dikelola dengan baik. Telah dipahami
bahwa kepemimpinan adalah inti manajemen, dan oleh sebab itu style="mso-bidi-font-style: normal">meningkatkan kemampuan manajemen merupakan
sebuah keharusan jika keberhasilan pelaksanaan pendidikan dalam era
desentralisasi daerah dan desentralisasi pendidikan diharapkan berhasil.
Peningkatan kemampuan manajemen dapat dilakukan melalui kepemimpinan yang dapat
menciptakan situasi yang kondusif bagi terjadinya inovasi dan
perubahan-perubahan dengan menggunakan berbagai perangkat teknologi komunikasi
dan informasi.
Oleh karena sifat yang melekat padastyle="mso-spacerun: yes"> teknologi komunikasi dan informasi,style="mso-spacerun: yes"> membuka kemungkinan bagi
pemanfaatannya secara luas dalam bidang pendidikan baik pada tingkat perencanaan
dan pembuatan keputusan (decision support system)style="mso-spacerun: yes"> tentang suatu kebijakan pendidikan
sampai pada implementasinya dalam mendukung proses pendidikan tersebut. Hal itu
dimungkinkan oleh besarnya peluang untuk mengakses informasi secara cepat dalam
waktu singkat dan dari sumber-sumber informasi yang bervariasi dengan tingkat
akurasi yang tinggi. Karena itu masalah jarak dan jumlah informasi yang
diperlukan tidak lagi menjadi
persoalan yang justru selama ini menjadi sebab utama terjadinya kesenjangan
antara pusat dan daerah sebagai akibat langsung dari sifat pengelolaan
pendidikan yang sentralistik dan diperparah oleh peralatan dan sistim informasi
manajemen yang amat sederhana.
Kesempatan seperti itu hanya mungkin diatasi dengan
pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi secara baik. Revolusi informasi
global telah berhasil menyatukan kemampuan komputasi, televisi, radio dan
telefoni secara terintegrasi Hal ini juga merupakan hasil dari suatu kombinasi
revolusi dibidang komputer personal, transmisi data dan kompresi, lebar pita (style="mso-bidi-font-style: normal">bandwidth), teknologi penyimpanan data
(data storage) dan penyampai data style="mso-bidi-font-style: normal">(access) integrasi multimedia dan
jaringan komputer. Konvergensi dari revolusi teknologi tersebut telah menyatukan
berbagai media, yaitu suara (voice,audio), video, citra (image) grafik dan teks.
(Adisasono, 2000)
Teknologi komunikasi dan informasi pada dasarnyastyle="mso-spacerun: yes"> memungkinkan dan memudahkan manusia
untuk dapat saling berhubungan dengan cepat, mudah dan terjangkaustyle="mso-spacerun: yes"> serta memiliki potensi untuk membangun
masyarakat yang demokratis, dan salah satu dampak terbesarnya adalah
demokratisasi di bidang pendidikan,
ditandai dengan adanya
hubungan antara guru dengan siswa, antara siswa dengan siswa, bahkan
antara guru dengan guru dan antara guru, siswa, orangtua dan masyarakat dalam
kaitannya dengan proses pendidikan di dalam dan di luarstyle="mso-spacerun: yes"> sekolah.
Dengan sifat-sifat teknologi komunikasi dan infromasi
seperti itu telah membuka peluang besar bagi pemerintah daerah dan kota untuk
dapat menyiapkan diri membangun sebuah sistem informasi yang memungkinkan
terjadinya proses pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi bagi kemajuan
pendidikan di daerah dan kota. Hal itu merupakan konsekwensi dari ketersediaan
jenis teknologi yang dimaksud dalam pelaksanaan otonomi daerah. Itu juga berarti
bahwa melalui pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi tersebut khususnya
internet kendala keterjangkauan dan ekspose terhadap informasi antar berbagai
wilayah di seluruh Indonesia dapat diatasi dan keutuhan wilayah negara kesatuan
Republik Indonesia dapat tetap terjaga.
Namun yang terpenting dari keadaan ini adalah
dibutuhkannya tanggung jawab moral setiap penyedia (provider) dan pengguna
teknologi komunikasi dan informasi tersebut karena selain diperoleh kemudahan
juga akan berjalan seiring dengan dampak
negatif yang akan ditimbulkannya seaindainya pemanfaatannya itu tidak style="mso-bidi-font-style: normal">didasari nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan,
etika, estetika dan kearifan para pemakainya.
Hanya dengan mengembangkan nilai-nilai seperti itu dampak
negatif dari pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi khususnya internet
dapat diminimalkan khususnya bagi generasi muda yang masih dalam pertumbuhan dan
pancaroba. Membangun sebuah keterbatasan dalam bersentuhan dengan teknologi
komunikasi dan informasi tersebut hampir tidak mungkin karena begitu terbukanya
berbagai sumber informasi yang disana sini diwarnai dengan berbagai “trick” yang
mengundang keterlibatan semua orang termasuk generasi muda untuk terlibat
kedalam sistem teknologi komunikasi dan informasi yang “mereka” bangun.
Hal itu amat dimungkinkan karena dengan arahan yang tepat
dan sedikit intervensi, teknologi komunikasi dan informasi dapat membantu style="mso-bidi-font-style: normal">mentransformasikan mereka yang selama
ini berada pada posisi marjinal di
banyak daerah dengan peralatan sebuah komputer multi media dapat berubah dari
posisi pengamatstyle="mso-spacerun: yes"> menjadi menjadi style="mso-bidi-font-style: normal">posisi partisipan aktif, dan disinilah
sebenarnya peranan teknologi informasi terhadap dunia pendidikan dalam proses
demokratisasi pendidikan menjadi sangat signifikan.style="mso-spacerun: yes">
Dengan berkembangnya teknologi informasi tersebut
batas-batas antar negara menjadi hilang (borderless nations) demikian pula
antara binis, pendidikan dan bahkan media. Perkembangannya begitu dahsyat
sehingga hampir tidak ada aspek kehidupan (pendidikan, perdagangan, semua segi
usaha, hiburan, pemerintahan, pola kerja, pola produksi dan bahkan pola hubungan
antar manusia) yang terlepas dari pengaruh atau bahkan dampak yang
ditimbulkannya yang pada saat sekarang ini menjadi perhatian serius dari
berbagai negara di dunia. Apa yang pada mulanya sulit dicapai oleh daerah
khususnya daera-daerah yang terpencil hampir dapat dipastikan tidak ada kendala
lagi sepanjang perangkat teknologi yang butuhkan memang tersedia.
style="mso-bidi-font-style: normal">Para hadirin undangan yang saya hormati
Menjelang memasuki abad ke-21 hampir semua negara didunia
bertanya tentang masa depan dunia yang mengalami perubahan dengan cepat itu.
Untuk memahami persoalan itu dengan baik sejumlah ahli di bidang bisnis,
organisasi dan manajemen serta keuangan dunia menuangkan kembali pemikiran
mereka melalui sebuah buku yang berjudul “Rethinking the Future” sebuah buku
yang menjelaskan perkembangan dunia yang ditandai dengan ketidakpastian style="mso-bidi-font-style: normal">uncertainty yang semakin meningkat dalam
mana pekerjaan, organisasi dan ekonomi juga turut berubah.
Guna mengantisipasi semua itu berbagai negara maju didunia
telah siap dengan program-program dan proyek mereka khususnya dalam bidang
pendidikan untuk dapat memasuki abad ke-21 tsb. sebagai abad informasi dapat
dimasuki dengan mulus. Dalam upaya-upaya itu sistem-sistem yang sentralistik
sudah mulai ditinggalkan dan mulai mengarah pada desentralisasi kekuasaan dan
wewenang dalam berbagai bidang kehidupan, tidak terkecuali Indonesia dengan
otonomi daerahnya.
Antisipasi dalam bidang pendidikan tersebut diantaranya
telah dilakukan oleh Amerika dengan berbagai proyek pemanfaatan teknologi dalam
bidang pendidikan dan keterkaitannya dengan peran dunia bisnis dan industri.
Khusus untuk Amerika serikat sebagai negara industri maju tidak dapat
dibandingkan dengan perkembangan daerah tingkat II di Indonesia. Namun style="mso-bidi-font-style: normal">untuk antisipasi kedepan membagi pengalaman
dengan negara maju yang dimungkinkan oleh teknologi komunikasi dan informasi
tidak berlebihan kiranya jika hal itu dikemukakan dalam kesempatan yang
berbahagia ini.
Sebagai negara industri maju Amerika Serikat dalam upaya
menempatkan posisi pendidikan terhadap kemajuan teknologi dan revolusi teknologi
informasi mengetengahkan beberapa pertanyaan: “In highly advanced, technological
society such as the United States, how do students know what skills they need to
qualify for the jobs, and the advanced training of their choice? How can schools
best teach necessary skills? How can industry and educational together help
create a more effective education system, a more vibrant, productive
economy?”
Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak kurang
dari Presiden Amerika Serikat Bill Clinton telahstyle="mso-spacerun: yes"> menggagas sebuah agenda nasional untuk
pendidikan yang diberi nama style="mso-bidi-font-style: normal">“The President’s Educational Technology
Initiatives”. Untuk merealisasikan gagasannya itu Presiden mengemukakan bahwa
“In our schools, every classroom in America must be connected to the information
superhighway, with computers and good software, and well-trained teachers. We
are working with the telecomunications industry, education and parents to
connect 20 percent of California’s classrooms this spring, and every clasroom
and every library in the entire United States by the year 2000. I ask congress
to support this educational technology initiative so that we can make sure this
national partnership succeeds.” Apa yang dikemukakan dalam pandangan di
atas adalah merupakan style="mso-bidi-font-style: normal">fokus dari orasi ilmiah pada hari
ini sebagai antisipasi dalam menyongsong otonomi pendidikan dalam
kerangka otonomi daerah.
style="mso-bidi-font-style: normal">Hadirin sekalian yang saya muliakan
Persoalannya sekarang adalah bagaimana agar daerah dengan
segala kemampuannya dan kendala yang dihadapinya dapat style="mso-bidi-font-weight: normal">style="mso-bidi-font-style: normal">membangun sebuah model style="mso-spacerun: yes"> style="mso-bidi-font-weight: normal">style="mso-bidi-font-style: normal">jaringan antar daerah didalam sebuah
kabupaten atau bahkan antar sekolah dan antar perguruan tinggi di daerah untuk
saling berhubungan sehingga informasi penting dan kemajuan-kemajuan dalam bidang
pendidikan di suatu daerah/sekolah/perguruan tinggi dapat diakses oleh
daerah/sekolah/perguruan tinggi lain. Hal ini penting dikemukakan karena selain
daerah-daerah selama ini sering tertinggal dalam berbagai informasi termasuk
informasi penting tentang pendidikan, juga sering didengar keluhan adanya
berbagai potensi didaerah yang belum dikenal dan dikelola dengan baik bagi
kemajuan daerah. Bahkan juga terlalu sering didengar di sekolah atau perguruan
tinggi guru atau dosen mengatakan bahwa teks mata pelajaran atau mata kuliah
yang ada tidak dikemukakan secara tepat, atau hanya satu atau dua bab dari buku
teks yang ada yang relevan dengan mata pelajaran atau mata kuliah yang sedang
disampaikan.
Hal itu tentunya dapat diatasi seperti yang telah
dikemukakan dalam sebuah tulisan yang berjudul “Innovation in 21st
Century Education” dikatakan sebagai berikut :” With the internet, we
have a chance to change that! First we can expand the scopestyle="mso-spacerun: yes"> of social issues, as well as coming up
with new perspectives by teaching HTML, the language of the net in social
science classes, and require them to write a webpage. HTML is basically a word
processing and easy to learn, no other language is needed for non-business
uses.I’ve written 15 pages, all without using any other language, except stuff
I’ve cut and pasted and not needed to modify .”style="mso-spacerun: yes">
Untuk mencapai apa yang dikemukakan diatas dapat diperoleh
melalui sebuah jaringan KOMPUTER
terbesar di dunia yang disebut
dengan INTERNET,style="mso-spacerun: yes"> yang dapat berfungsi dengan baik jika
didukung oleh perangkat komputer dengan perangkat lunak yang baik, dan dengan
guru yang terlatih baik. Menggunakan internet dengan segala fasilitasnya akan
memberikan kemudahan untuk mengakses berbagai informasi untuk pendidikan yang
secara langsung dapat meningkatkan pengetahuan siswa bagi keberhasilannya dalam
belajar.
Melalui teknologi informasi yang dimiliki baik oleh daerah
maupun oleh individual sekolah, dapat memanfaatkannya diantaranya untuk :
style="MARGIN-LEFT: 0.25in; TEXT-INDENT: -0.25in; mso-list: l6 level1 lfo2; tab-stops: list .25in">1.style="FONT: 7pt 'Times New Roman'"> penelusuran
dan pencarian bahan pustaka;
2.style="FONT: 7pt 'Times New Roman'"> membangun style="mso-bidi-font-style: normal">Program Artificial Intelligence
(kecerdasan buatan) untuk memodelkan sebuah rencana pengajaran;style="mso-bidi-font-style: normal">
3.style="FONT: 7pt 'Times New Roman'"> memberi
kemudahan untuk mengakses apa yang disebut dengan style="mso-bidi-font-style: normal">virtual clasroom ataupun virual
university;
4.style="FONT: 7pt 'Times New Roman'"> pemasaran
dan promosi hasil karya
penelitian;
Kegunaan-kegunaan seperti diatas itu dapat diperluas
bergantung kepada peralatan komputer yang dimiliki jaringan dan fasilitas
telepon yang tersedia dan provider yang bertanggung jawab untuk tetap
terpeliharanya penggunaan jaringan komunikasi dan informasi tersebut. Dari waktu
kewaktu jika dilihat dari jumlah pemakaian yang makin meningkat secara
eksponensial setiap tahunnya memungkinkan fasilitas yang pada mulanya hanya
dapat dinikmati segelintir orang, dan sekelompok kecil sekolah terkemuka dengan
biaya operasional yang tinggi, kedepan besar kemungkinan biaya yang besar itu
akan dapat ditekan sehingga pemanfaatannya benar-benar dapat menjadi penunjang
utama bagi pengelolaan pendidikan khususnya bagi pendidikan di daerah.
style="mso-bidi-font-style: normal">Hadirin para undangan sekalian yang
berbahagia
Agar pemanfaatan teknologi informasi tersebut dapat
memberikan hasil yang maksimal maka juga dibutuhkan kemampuan pengelola
teknologi komunikasi dan informasi yang baik yang dapat diperoleh melalui
pelatihan baik untuk tingkat pembuat kebijakan pendidikan di daerah maupun pada
tingkat sekolah. Pemahaman dan kemampuan manajerial kepala sekolah berkaitan
dengan pemanfaatan teknologi komunikasi dan infomasi tersebut merupakan salah
satu persyaratan pokok dalam pemilihan kepala sekolah. Mintzberg misalnya
mengemukan sepuluh peran manajerial pemimpin yang meliputi :style="mso-bidi-font-style: normal">1)
informational roles menempatkan manager style="mso-bidi-font-style: normal">sebagai monitor, style="mso-bidi-font-style: normal">disseminator dan spokes person, 2) style="mso-bidi-font-weight: normal">style="mso-bidi-font-style: normal">decisional roles yang melibatkan
manager sebagai entrepreneur, disturbance
handler, allocator dan negotiator,3) style="mso-bidi-font-weight: normal">interpersomal roles melibatkan
manager sebagai figurhead, liason dan
leader.
Pemanfaatan teknologi seperti disebutkanstyle="mso-spacerun: yes"> di atas akan lebih besar kemungkinannya
dalam pengelolaan pendidikan yang berbasis sekolah School – based Management
(SBM), salah satu bentuk pengelolaan yang kelak akan dilakukan oleh
sekolah-sekolah dalam kerangka desentralisasi pendidikan atau otonomi
pendidikan. Kemungkinan keberhasilan bentuk pengelolaan pendidikan di sekolah
seperti itu akan lebih besar jika didukung oleh pendidikan yang berbasis
masyarakat Community – based Educationstyle="mso-spacerun: yes"> (CBE) sehingga terjadi hubungan
yang sinergi antar sekolah, orang tua, pemerintah dan masyarakat bagi
pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan di daerah. Dengan demikian
pendidikan diharapkan akan menjadi “lokomotif” pembangunan daerah.
Melihat pada volume informasi yang diperlukan dan
dihubungkan dengan keterbatasan teknologi yang dimilki sekolah untuk mengelola
informasi menyebabkan sedikit sekali terjadi perubahan di sekolah. Keadaan
sekarang juga kadang bergantung pada informasi yang dimiliki seseorang di dalam
kepalanya yang tidak selalu mudah untuk mengaksesnya., karena itu pada umumnya
nampak bahwa kepala sekolah tidak selalu dapat mengawasi dan memanfaatkan dengan
baik penyimpanan informasi di sekolah.
Pada hal untuk pengambilan keputusan yang cepat dan tepat
diperlukan penanganan informasi yang baik terutama kelak bila desentralisasi
pendidikan benar-benar telah terjadi sebab : “The effective handling of
information is of central important to the decision-making role of the
principal. Unorganized and difficult-to-access information is the great
enemy of effective schools decision making.” (Garis bawah dari penulis)
Pandangan di atas menunjukkan peran yang amat penting dalam pengelolaan
informasi bagi pengambilan keputusan di sekolah. Dalam perkembangannya memang
amat diperlukan informasi yang cepat dan tepat bagi pengambilan keputusan yang
akan dilakukan oleh pimpinan dalam hal ini kepala sekolah. Untuk itu kedepan
dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi khususnya Sistem
Informasi Manajemen akan diperlukan sebagai Decision Support System.
style="mso-bidi-font-style: normal">Hadiri para undangan sekalian yang saya
muliakan
Dengan memilih bentuk pengelolaan pendidikan berbasis
sekolah sebagai konsekuansi dari demokratisasi pendidikan dan dengan dukungan
masyarakat maka peran kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan di sekolah akan
semakin penting. Dalam melaksanakan tugas “informational role”-nya itu kepala
sekolah harus dapat menetapkan langkah-langkah kongkrit dalam pengelolaan
informasi sebagai hal yang pokok dalam pengelolaan pendidikan berbasis
sekolah.
Di negara-negara yang sudah maju dalam bidang teknologi
komunikasi dan informasi, peran penting dari komputer dalam pengelolaan
pendidikan telah dikenal sejak kurang dari dua dekade yang lalu seperti
dikemukakan oleh Commonwealth Schools Commission in 1984 Australia misalnya yang
menyediakan program komputer bagi pendidikan melalui National Computer Education
Program menyatakan bahwa : “…it was argued that principals and in-schoolstyle="mso-spacerun: yes"> administrators should use computing
systems to enchance communications
between all groups involved in the functioning of the school, and to streemline
administration and curriculum support.”style="mso-spacerun: yes">
Pengadaan perangkat komputer dan pengetahuan
pemanfaatannya sudah merupakan sesuatu yang harus terutama dalam memasuki abad
ke 21 dan dalam rangka mempersiapkan diri menerima wewenang otonomi pendidikan
sebab paling tidak karena beberapa hal:
style="MARGIN-LEFT: 0.25in; TEXT-INDENT: -0.25in; mso-list: l8 level1 lfo8; tab-stops: list .25in">1.style="FONT: 7pt 'Times New Roman'"> Informasi
yang disimpan secara elektronik memiliki fleksibilitas dalam mengkakses dan
dalam pemanfaatannya yang sudah tidak mungkin dilakukan melalui sistem
penanganan informasi dengan cara lama. Komputer juga menyediakan begitu banyak
kemudahan dalam mengelola informasi dalam arti menyimpan, mengambil kembali dan
pemutahiran informasi.
style="MARGIN-LEFT: 0.25in; TEXT-INDENT: -0.25in; mso-list: l8 level1 lfo8; tab-stops: list .25in">2.style="FONT: 7pt 'Times New Roman'"> Komputer
juga merupakan alat yang memiliki kemampuan luar biasa dalam membantu
memanfaatkan informasi itu dalam rangka pengambilan keputusan dan pemecahan
masalahan secara kreatif. Kemampuan komputer juga untuk memanipulasi dan
menyusun kembali informasi untuk kepentingan khusus pemakai menjadikannya
menjadi alat yang efektif dalam tugas menganalisis dan menanfsirkan
kecenderungan yang terjadi, pengujian hipotesisi dan identifikasi kecenderungan
baru program-program sekolah.
style="MARGIN-LEFT: 0.25in; TEXT-INDENT: -0.25in; mso-list: l8 level1 lfo8; tab-stops: list .25in">3.style="FONT: 7pt 'Times New Roman'"> Dengan
menempatkan komputer di bawah kendali langsung kepala sekolah akan menjadi alat
yang amat ampuh untuk pengelolaan dan pemrosesan informasi sebuah kemampuan yang
mengantarkan langsung informasi secara cepat kehadapan kepala sekolah dan juga
kepada pimpinan lainnya.
style="MARGIN-LEFT: 0.25in; TEXT-INDENT: -0.25in; mso-list: l8 level1 lfo8; tab-stops: list .25in">4.style="FONT: 7pt 'Times New Roman'"> Komputer
sebagai alat untuk memproses informasi, dan memiliki tingkat aplikasi dalam
setiap langkah proses manjemen – perencanaa,
mengkumunikasikan,mengorganisasikan, pengawasan dan memotivasi.style="mso-spacerun: yes">
Dengan memperhatikan berbagai hal berkenaan dengan
pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi untuk pendidikan dalam rangka
otonomi daerah dan otonomi pendidikan membuka peluang yang sebaik-baiknya bagi
setiap lembaga terkait dengan pelaksanaan dan pengelolaan pendidikan untuk
bekerjasama secara lebih baik dan lebih erat. STKIP Garut misalnya akan
menyediakan tenaga-tenaga professional di bidang pendidikan (guru dan tenaga
kependidikan lainnya) sedangkan AMIK meneyediakan tenaga-tenaga professional di
bidang pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi khususnya komputer untuk
lebih meningkatkan pengelolaan pendidikan dengan berbagai kebijakan yang
didadasari tanggung jawab dari Pemerintah Daerah dengan menempatkan pendidikan
sebagai titik sentral pelaksanaan
pembangunan daerah melalui kebijakan pengembangan dan pemanfaatan sumber
daya manusia berkualitas untuk pembangunan. Dalam pada itu melibatkan orangtua
dan masyarakat dalam setiap langkah kebijakan akan meningkatkan perhatian dan
partisipasi masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat umumnya dan
pendidikan khususnya.
style="mso-bidi-font-style: normal">Hadirin para undangan serta pada wisudwan
yang berbahagia
Demikianlah uraian saya melalui orasi ilmiah yang saya
sampaikan dalam rangka Wisuda X STKIP Garut dan Wisuda I AMIK, semoga apa yang
telah saya sampaikan dalam orasi ilmiah ini bermanfaat adanya, dan semoga STKIP
dan AMIK khususnya dan Daerah Tk.II Kabupaten Garut umumnya sesantiasa
memperoleh limpahan rahmat dan ridho
Allah Subhanahu Watala dalam melaksanakan pembangunannya. Amin.
Billahit Taufiq Wal Hidayah, Wassalamu Alaikum
Warachmatullahi Wabarakatuh.
DAFTAR BACAAN
Adi Sasono, (2000) style="mso-bidi-font-style: normal">Pendidikan dan Teknologi Kerakyatan,
Makalah
style="mso-spacerun: yes">
disampaikan di dalam Kovensi Nasional Pendidikan Indonesia, UNJ:
Jakarta.
Azis Wahab, (2000) style="mso-bidi-font-style: normal">Pengelolaan Berbasis Sekolah,
Makalah
style="mso-spacerun: yes">
disampaikan di dalam Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia,style="mso-spacerun: yes"> UNJ: Jakarta.
Gibson, Rowan,.(1997) style="mso-bidi-font-style: normal">Rethinking The Future, London: Nicholas
Brealy
style="mso-spacerun: yes">
Publishing.
Pandapotan, Sianipar,.(1996) style="mso-bidi-font-style: normal">Panduan Menggunakan Internet, Jakarta :
Elex Media
Computindo,
Kelompok Gramedia
Rose,Collin and Nicholl, Malcolm J,. (1997) style="mso-bidi-font-style: normal">Accellerated Learning For Thestyle="mso-bidi-font-style: normal">21st
Century,
New York : A Dell Trade Paperback.
Turney,C et.all., (1992) style="mso-bidi-font-style: normal">The School Manager : Educational
ManagementRoles and Tasksstyle="mso-bidi-font-style: normal">,
NSW Australia : Allen &
Unwin.
Dokumen :
href="http://www.whitehouse.gov/WH/EOP/edtech/index-source">http://www.whitehouse.gov/WH/EOP/edtech/index-source.
href="http://members.tripod.com/~homelessness/education">http://members.tripod.com/~homelessness/education.
Undang-Undang Otonomi Daerah 1999,. (1999)style="mso-spacerun: yes"> style="mso-bidi-font-style: normal">UU No.22 Th 1999 tentang Pemerintahan
daerah, UU No.25 Th 1999 tentang Perimbangan Keuanganstyle="mso-spacerun: yes"> Antara Pemerintah Pusat dan Daerah dan
UU No.28 Th.1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Dari KKN.
Jakarta :Sinar Grafika.
Berbicara di Depan Publik
Salah satu hal yang paling kita takuti baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan profesional kita adalah ketika kita harus berbicara di depan banyak orang, baik untuk acara sosial, seminar, kuliah, presentasi bisnis, pidato perpisahan, bahkan dalam acara reuni sekolah yang sebagian besar hadirin telah kita kenal dengan baik. Berbicara di depan publik bagi sebagian besar kita adalah sesuatu yang menegangkan dan menakutkan, seakan seluruh mata para hadirin sedang menghakimi kita. Kita seakan-akan menjadi terdakwa yang sedang diadili oleh para hadirin.
Pengelola rubrik:
Aribowo Prijosaksono dan Roy Sembel
Aribowo Prijosaksono (email:aribowo_ps@hotmail.com) dan Roy Sembel (http://www.roy-sembel.com) adalah co-founder dan direktur The Indonesia Learning Institute – INLINE (http://www.inline.or.id), sebuah lembaga pembelajaran untuk para eksekutif dan profesional.
Berbicara di depan publik, suka atau tidak merupakan keterampilan yang harus kita kuasai, karena pada suatu saat dalam kehidupan kita, pastilah kita harus berbicara di hadapan sejumlah orang untuk menyampaikan pesan, pertanyaan, tanggapan atau pendapat kita tentang sesuatu hal yang kita yakini. Hal yang sederhana misalnya kita harus berbicara di depan para tamu pada acara ulang tahun anak kita atau hal yang menentukan karier kita seperti mempresentasikan proposal proyek atau tentang produk kita di hadapan sejumlah mitra bisnis atau calon pembeli.
Lima Unsur
Berbicara di depan publik merupakan salah satu seni berkomunikasi. Dalam edisi Mandiri ke-38 kita telah membahas topik komunikasi. Seperti yang pernah kita bahas sebelumnya dalam edisi tersebut, ada lima komponen atau unsur penting dalam komunikasi yang harus kita perhatikan. Kelima unsur tersebut adalah: pengirim pesan (sender), pesan yang dikirimkan (message), bagaimana pesan tersebut dikirimkan (delivery channel atau medium), penerima pesan (receiver), dan umpan balik (feedback).
Hukum Komunikasi
Selain itu kita juga telah membahas 5 Hukum Komunikasi Yang Efektif (The 5 Inevitable Laws of Efffective Communication) yang kita rangkum dalam satu kata yang mencerminkan esensi dari komunikasi itu sendiri yaitu REACH (Respect, Empathy, Audible, Clarity, Humble), yang berarti merengkuh atau meraih. Karena kita berkeyakinan bahwa komunikasi itu pada dasarnya adalah upaya bagaimana kita meraih perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon positif dari orang lain. Berikut kami uraikan kembali kelima hukum komunikasi efektif tersebut dalam konteks dan sebagai fondasi bagi kita untuk mengembangkan kemampuan berbicara di depan publik.
Hukum pertama dalam berkomunikasi secara efektif, khususnya dalam berbicara di depan publik adalah sikap hormat dan sikap menghargai terhadap khalayak atau hadirin. Hal ini merupakan hukum yang pertama dalam kita berkomunikasi dengan orang lain, termasuk berbicara di depan publik. Kita harus memiliki sikap (attitude) menghormati dan menghargai hadirin kita. Kita harus ingat bahwa pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Jika kita bahkan harus mengkritik seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaaan orang tersebut.
Hukum kedua adalah empati, yaitu kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Rasa empati akan memampukan kita untuk dapat menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya. Oleh karena itu dalam berbicara di depan publik, kita harus terlebih dulu memahami latar belakang, golongan, lapisan sosial, tingkatan umur, pendidikan, kebutuhan, minat, harapan dan sebagainya, dari calon hadirin (audiences) kita. Jadi sebelum kita membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan kita. Sehingga nantinya pesan kita akan dapat tersampaikan tanpa ada halangan psikologis atau penolakan dari penerima.
Empati bisa juga berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap perseptif atau siap menerima masukan atau pun umpan balik apa pun dengan sikap yang positif. Banyak sekali dari kita yang tidak mau mendengarkan saran, masukan apalagi kritik dari orang lain. Padahal esensi dari komunikasi adalah aliran dua arah. Komunikasi satu arah tidak akan efektif manakala tidak ada umpan balik (feedback) yang merupakan arus balik dari penerima pesan. Oleh karena itu dalam berbicara di depan publik, kita perlu siap untuk menerima masukan atau umpan balik dengan sikap positif.
Hukum ketiga adalah audible. Makna dari audible antara lain: dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Audible dalam hal ini berarti pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh penerima pesan. Hukum ini mengatakan bahwa pesan harus disampaikan melalui medium atau delivery channel sedemikian hingga dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Hukum ini mengacu pada kemampuan kita untuk menggunakan berbagai media maupun perlengkapan atau alat bantu audio visual yang akan membantu kita agar pesan yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik.
Hukum keempat adalah kejelasan dari pesan yang kita sampaikan (clarity). Selain bahwa pesan harus dapat diterima dengan baik, maka hukum keempat yang terkait dengan itu adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Clarity juga sangat tergantung pada kualitas suara kita dan bahasa yang kita gunakan. Penggunaan bahasa yang tidak dimengerti oleh hadirin, akan membuat pidato atau presentasi kita tidak dapat mencapai tujuannya. Seringkali orang menganggap remeh pentingnya Clarity dalam public speaking, sehingga tidak menaruh perhatian pada suara (voice) dan kata-kata yang dipilih untuk digunakan dalam presentasi atau pembicaraannya.
Hukum kelima dalam komunikasi yang efektif adalah sikap rendah hati. Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati yang kita miliki. Kerendahan hati juga bisa berarti tidak sombong dan menganggap diri penting ketika kita berbicara di depan publik. Justru dengan kerendahan hatilah kita dapat menangkap perhatian dan respon yang positif dari publik pendengar kita.
Kelima hukum komunikasi tersebut sangat penting untuk menjadi dasar dalam melakukan pembicaraan di depan publik. Berikut adalah beberapa tips atau kiat-kiat untuk public speaking yang kami adaptasi dari buku Say It Like Shakespeare, karangan Thomas Leech.
Persiapan
Hal yang paling penting dalam persiapan kita untuk berbicara di depan publik adalah membangun rasa percaya diri dan mengendalikan rasa takut dan emosi kita. Bahkan banyak pakar komunikasi yang mengatakan bahwa persiapan mental jauh lebih penting daripada persiapan materi atau bahan pembicaraan. Meskipun demikian, persiapan materi juga sangat mempengaruhi kesiapan mental kita. Kesiapan mental yang positif merupakan syarat mutlak bagi kita dalam berbicara di depan publik. Pastikan juga bahwa anda beristirahat dan tidur yang cukup menjelang waktu anda berbicara di depan publik dan majulah dengan sikap optimis dan sukses. Berikut adalah hal-hal yang perlu kita perhatikan dalam menyampaikan pesan kepada publik:
Kualitas suara kita merupakan faktor kunci yang menentukan apakah hadirin memperhatikan kita maupun pesan yang kita sampaikan. Pastikan bahwa suara anda cukup keras dan jelas terdengar bahkan oleh hadirin yang duduk paling jauh dari anda sekalipun. Jika tersedia, selalu gunakan pengeras suara (loudspeaker), meskipun anda merasa suara anda sudah cukup keras. Cobalah dengan berlatih mendengarkan suara anda sendiri. Caranya dengan menutup mata, berbicaralah, kemudian perhatikan kualitas, kekuatan dan kejelasan suara anda.
Suara kita merupakan aset kita yang paling berharga dalam berkomunikasi secara lisan. Oleh karena itu memelihara kualitas suara dan berlatih secara kontinu merupakan keharusan jika kita ingin menjadi pembicara publik yang sukses. Jika suara kita kurang bagus dan sumbang, kita dapat mencari pelatih suara profesional atau mengikuti kursus atau pendidikan (seperti misalnya di Institut Kesenian Jakarta) untuk meningkatkan kualitas suara kita. Apalagi misalnya anda bercita-cita jadi presenter, pembicara publik, MC dan sebagainya. Anda harus benar-benar memperhatikan kualitas suara anda.
Bahasa dan kata-kata yang kita gunakan merupakan faktor kunci lain yang menentukan kemampuan komunikasi kita. Bahasa yang baik dan tepat dapat membantu memperjelas dan meningkatkan kualitas presentasi atau pembicaraan kita. Oleh karena itu perlu sekali bagi kita untuk memperhatikan kata-kata dan bahasa yang kita pilih.
Pikirkanlah kata-kata yang akan anda gunakan, karena kemampuan berbahasa yang buruk akan tercermin pada kualitas penyampaian pesan kita. Hindari menggunakan kata-kata yang tidak perlu, seperti: apa itu ….. apa namanya…ehm….you know…. dll. Jangan mengucapkan kata-kata: maaf…..Jika anda salah mengucap, cukup anda ulangi sekali lagi kalimat tersebut dengan benar.
Penampilan adalah kesan pertama. Jadi kita harus pastikan bahwa pada saat kita maju atau berdiri untuk berbicara, hadirin atau audiens kita memperoleh kesan yang baik terhadap kita. Pastikan bahwa penampilan kita membawa pesan yang positif, dan kita kelihatan lebih baik dan merasa lebih baik. Gunakan pakaian yang sesuai dengan suasana pertemuan, dan sesuai dengan jenis pakaian yang digunakan oleh para hadirin lainnya.
Komunikasi Non-verbal
Yang dimaksud dengan komunikasi non-verbal adalah: kontak mata, ekspresi wajah, penampilan fisik, nada suara, gerakan tubuh, pakaian dan aksesoris yang kita gunakan – semuanya memberikan efek atau pengaruh yang cukup besar terhadap penyampaian pesan kita. Para hadirin akan kebingungan ketika bahasa tubuh kita misalnya berbeda dengan bahasa verbal yang kita ucapkan. Biarkan tubuh kita berkomunikasi juga dengan audiens kita. Bahasa tubuh kita sebagai pembicara atau pengirim pesan dan bahasa tubuh pendengar atau audiens kita dapat membantu atau menghalangi proses komunikasi. Jika hadirin duduk dengan sikap seperti mau tidur atau menunjukkan wajah bosan, berarti kita harus mengubah suasana atau cara kita menyampaikan pesan.
Persiapan Mental
Dalam membangun kesiapan mental kita dalam berbicara di depan publik, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mengurangi ketegangan fisik dengan cara melakukan senam ringan (stretching). Karena kita tidak dapat menurunkan ketegangan mental sebelum kita mengendorkan otot-otot tubuh kita yang tegang. Seperti yang dikatakan oleh psikolog Amerika yang terkenal Dr. Richard Gillett, ”It is almost impossible to go into alpha without considerable muscular relaxation.” Hampir tidak mungkin masuk ke kondisi alpha (kondisi gelombang otak atau mental yang relaks) tanpa mengendorkan otot-otot tubuh. Biasanya saya memegang ujung kaki sambil berdiri membungkuk selama sepuluh detik. Kemudian tarik napas yang panjang dan dalam, tahan beberapa detik, kemudian keluarkan napas pelan-pelan. Selanjutnya anda bisa batuk sekali atau minum segelas air putih untuk mempersiapkan vokal anda.
Cara lain yang efektif untuk membangun kesiapan mental adalah dengan datang ke tempat pertemuan lebih awal. Dengan demikian kita dapat mengetahui suasana dan keadaan terlebih dahulu. Selanjutnya kita bisa mencari dukungan (back up support) dari orang-orang yang kita kenal maupun kenalan baru serta dari mereka yang mengharapkan kita sukses dalam presentasi nantinya. Mengobrollah dengan mereka sebelum presentasi dimulai.
Berikut adalah beberapa prinsip dalam mempersiapkan mental kita sebelum berbicara di depan publik:
1. Berbicara di depan publik bukanlah hal yang sangat menegangkan. Dunia tidak runtuh jika anda tidak melakukannya dengan baik. Tidak akan ada hal yang buruk yang akan terjadi setelah presentasi atau penyampaian anda. Jadi tenang dan relaks saja.
2. Kita tidak perlu menjadi orang yang sempurna, cerdas ataupun brilian untuk berbicara di depan publik.
3. Siapkan 2-3 poin pembicaraan atau pertanyaan, karena audiens anda akan sulit untuk mengingat atau memperhatikan lebih dari tiga hal dalam satu waktu.
4. Kita harus memiliki tujuan atau sasaran yang jelas dan terarah.
5. Kita tidak perlu menganggap diri kita adalah seorang pembicara publik. Tujuan kita adalah menyampaikan pesan (message) kita kepada hadirin.
6. Kita tidak perlu harus dapat sepenuhya menguasai seluruh hadirin. Biarkan saja kalau ada beberapa yang tidak menaruh perhatian. Fokuskan perhatian kita pada mereka yang tertarik dan mendengarkan presentasi kita.
7. Kita harus ingat bahwa sebagian besar hadirin menginginkan kita berhasil dalam presentasi atau penyampaian pesan kita.
Siapkan Pesannya
Dalam mempersiapkan public speaking, selain persiapan mental, persiapan materi juga harus dilakukan dengan baik dan benar. Karena kesiapan materi atau pesan yang akan kita sampaikan akan sangat mempengaruhi kesiapan kita secara mental. Hal yang paling penting adalah kesiapan pendengar atau audiens untuk menerima pesan kita. Biasanya kita harus menyampaikan pokok-pokok pemikiran atau ringkasan dari apa yang mau kita sampaikan sehingga audiens juga memiliki kesiapan mental untuk menerima pesan tersebut. Paling tidak agenda atau outline bahan pembicaraan kita sudah jauh-jauh hari kita sampaikan terlebih dulu.
Hal yang pertama dalam mempersiapkan materi adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai materi yang akan kita sampaikan baik dari buku-buku referensi, tulisan atau publikasi lainnya. Kita juga perlu memperoleh informasi tentang audiens kita, baik tingkatan umur, maupun pendidikan, pengalaman, bidang keahlian, minat dan sebagainya. Sehingga kita bisa empati (ingat hukum komunikasi kedua) dan berbicara dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh audiens kita. Berikut adalah hal-hal yang perlu kita perhatikan dalam mengembangkan topik atau materi:
1. Perkayalah topik dan bacaan yang telah kita lakukan dengan hal yang uptodate dan riil terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman kita, maupun pengalaman orang lain adalah bahan yang menarik untuk kita angkat.
2. Hilangkan bagian-bagian yang dirasakan membuat kita tidak fokus, menimbulkan keragu-raguan atau melebihi jadwal waktu yang tersedia untuk kita.
Kemudian kita tetapkan terlebih dulu apa tujuan atau sasaran kita. Apa yang menjadi tujuan seminar, rapat, kuliah atau pertemuan ini? Apa yang menjadi harapan panitia, kita sebagai pembicara dan seluruh hadirin yang ada? Penetapan tujuan ini sangat berkaitan dengan informasi yang kita dapatkan mengenai pendengar atau hadirin kita, apa yang menjadi tujuan dan harapan mereka? Dapatkan umpan balik dari teman-teman anda atau mereka yang ahli dalam bidang yang akan kita presentasikan.
Setelah itu kemudian barulah kita susun peta pemikiran dari topik yang dipilih. Mengenai teknik pemetaan pemikiran pernah kita sampaikan pada edisi Mandiri 40. Teknik ini merupakan cara untuk meringkas suatu tema atau pokok pikiran yang ada dalam buku. Pertama, kita awali dengan menuliskan tema pokok di tengah-tengah halaman kertas kosong. Kemudian seperti pohon dengan cabang dan ranting kita kembangkan tema pokok menjadi sub-tema di sekelilingnya dengan dihubungkan memakai garis seperti jari-jari roda.
Setelah itu buatlah agenda, outline atau catatan kecil tentang urutan pembicaraan yang akan kita sampaikan. Sisipkan anekdot, kuis, cerita ilustrasi, games, dan latihan-latihan untuk menjaga agar audiens tidak bosan dan mengantuk. Persiapan tersebut termasuk menyusun makalah, powerpoint presentation, transparent sheets, handouts, video presentation, dan sebagainya sebagai materi utama presentasi anda. Ingat pada saat presentasi jangan membacakan makalah atau terpaku pada bahan utama anda. Berbicaralah seakan anda sedang berbicara dengan satu-dua orang saja. Gunakan kontak mata dan fokuskan perhatian pada mereka yang memperhatikan presentasi anda. Tetapi sebisa mungkin anda memproyeksikan pembicaraan anda ke seluruh ruangan dan seluruh hadirin.
Alat Bantu Visual
Untuk meningkatkan kualitas penyampaian pesan (hukum ketiga audible), kita harus menguasai kegunaan dan penggunaan alat bantu visual seperti misalnya slide, overhead projector, LCD (infocus) projector yang langsung dihubungkan dengan komputer atau notebook anda. Sebagian besar orang lebih mudah menangkap informasi yang berupa gambaran visual daripada mendengarkan. Apalagi jika kita menggunakan data-data numerikal, akan lebih menarik jika disajikan dalam bentuk grafik, tabel atau bagan warna-warni. Anda bisa menggunakan software tertentu misalnya powerpoint, untuk menggabungkan pointers anda dengan suara, foto, clip art, animasi, dan video dalam satu file presentasi. Kemampuan menggunakan alat bantu visual ini akan memberikan kesan pertama kepada audience bahwa kita siap melakukan presentasi.
Tetapi sekali lagi jangan terfokus pada alat bantu tersebut. Apalagi jika terjadi kesalahan atau gangguan teknis, anda harus selalu siap dengan cara presentasi yang langsung tanpa alat bantu. Atau sebaiknya ada teknisi yang siap untuk mengatasi gangguan teknis tersebut. Jangan sampai gara-gara alat bantu visual, anda kehilangan momentum untuk menyampaikan topik atau materi presentasi anda.
Jadi dalam penyampaian pesan kepada publik, baik berupa pertanyaan, pidato, kuliah, seminar, sepatah kata, yang paling penting bagi kita adalah bahwa pesan kita dapat tersampaikan kepada penerima pesan dengan baik dan jelas. Berbicara di depan publik bukan ujian atau pun pengadilan untuk mengadili penampilan, kecerdasan, kecantikan atau pun keluasan pengetahuan kita. It is simply a process of conveying your message to the targetted audiences — nothing more nothing less.n
1
KOMUNIKASI DALAM PENDIDIKAN1
Limapuluh tahun yang lalu saya datang di kampus ini. Belajar
tentang teknik mesin,sesuai dengan permintaan ayah saya yang
menganggap teknik mesin adalah pilihan yang paling baik untuk
saya. Setahun sebelumnya ayah menetapkan teknik elektro bagi
kakak saya, Artono Arismunandar. Saya tinggal di jalan Pajajaran
6A, rumah ibu dari Prof. Anton Mulyono, selama satu semester.
Setelah itu saya tinggal di Asrama Mahasiswa jalan Ganesa 15B
sampai saya menikah dengan Sekarningrum Wirakusumah pada
tanggal 21 Juni 1959. Saya lulus ujian sarjana teknik mesin pada
tanggal 10 Februari 1959, tepat pada hari ulang tahun adik saya
yang bungsu, Wismoyo Arismunandar. Ketika itu ITB masih
merupakan bagian dari Universitas Indonesia. Adik saya Budiono
Arismunandar pernah bercita-cita menjadi penerbang, tetapi ayah
menganjurkan supaya adik saya itu belajar di akademi perkebunan
saja. Terakhir ia menjabat komisaris utama PT Perkebunan
Nusantara Jawa Timur, kemudian Jawa Tengah, setelah sebelum
itu pernah menjabat direktur utama PT Perkebunan Nusantara I di
Langsa, Aceh. Dua adik perempuan saya, Titi Rarasati dan
Retnowati, berturut -turut oleh ayah diminta belajar di Universitas
Gajah Mada dan kemudian menjadi guru SMU Negeri untuk
fisika dan matematika, di Jakarta. Adik saya Wismoyo
Arismunandar diijinkan masuk Akademi Militer Nasional di
Magelang. Apa yang hendak saya katakan di sini adalah bahwa
ayah saya almarhum, R. Arismunandar, menetapkan pilihan bagi
anak-anaknya karena beliau merasa sangat mengetahui apa yang
paling baik bagi mereka.
1 Disampaikan oleh Prof. Wiranto Arismunandar pada acara Apresiasi dan
Pengabdian Guru Besar dan Dosen Senior, Departemen Teknik Mesin, Aula
Timur ITB, 27 September 2003.
2
Di asrama saya tinggal serumah dengan pak A.Sadali almarhum,
Mathias Aroef, Samaun Samadikun, A. Nu'man, Suwarso, Sunardi
almarhum, Tjokorda Raka, Tungki Ariwibowo almarhum,
J.C. Kana, Mulhim, Fauzi S, Rochadji Gapar, Jasjfi, Soebhakto,
Geert Pandegirot almarhum, dan teman-teman lain. Kehidupan di
asrama memang mengasyikkan. Saya merasa beruntung karena
diperkenalkan dengan teman yang berasal dari berbagai penjuru
tanah air, berbagai ragam budaya, dan kehidupan bertoleransi.
Saya memang senang mempunyai banyak teman, dan ternyata ini
adalah yang paling utama dalam kehidupan bermasyarakat.
Saya sendiri tidak pernah berpikir untuk menjadi dosen, tetapi
saya percaya Tuhan memberikan yang terbaik bagi saya. Beberapa
hari setelah saya lulus ujian sarjana, ketika saya sedang melihatlihat
papan pengumuman yang kebetulan ada di depan kantor tata
usaha Bagian Mesin, Prof.Dr.Ing.K.W.Vohdin, Ketua Bagian
Mesin, menghampiri saya. Beliau bertanya apakah saya mau
dikirim ke luar negeri. Dengan gembira saya menjawab "mau
sekali", namun beliau kemudian melanjutkan, "tetapi harus mau
menjadi dosen ya". Sebuah pertanyaan yang tidak pernah saya
duga, tetapi seketika itu juga saya menyatakan kesediaan saya.
Saya memang tidak berpikir panjang, tetapi untung saja calon
isteri saya menyetujui. Saya berangkat ke Amerika Serikat pada
bulan Agustus 1959 untuk belajar di Purdue University. Saat
berangkat, Pak Samudro sempat berpesan supaya saya jangan
hanya belajar, tetapi juga bergaul dengan banyak orang.
Ternyata saya senang menjadi dosen, atas dukungan isteri saya,
sampai akhir hayatnya, dan enam anak : Indiarto almarhum,
Stefina, Savarina, Mira Marina, Ariati, dan Budiarto
Arismunandar. Sampai sekarang pun saya tidak pernah ingin
meninggalkan ITB. Saya bangga kepada almamater, saya bangga
kepada alumni ITB atas prestasi dan pengabdiannya. Saya bangga
mendengarkan alumni berceritera tentang pengalamannya, dan
dari situ pun saya mendapatkan banyak pelajaran. Kita memang
3
harus pandai belajar dari pengalaman orang lain, karena pada
dasarnya hanya orang bodoh saja yang belajar dari
pengalamannya sendiri (…….only a fool learns from his own).
Kehidupan kampus ini memang menyenangkan, dengan gagasan
dan pemikiran anak muda yang menyegarkan, cemerlang dan
dinamis. Semuanya itu merupakan tantangan bagi semua warga
kampus untuk senantiasa mengikuti perkembangan.
Dari pelajaran dan pengalaman selama ini, komunikasi merupakan
faktor penting dalam kehidupan manusia ------ kehidupan
bermasyarakat. Bahkan orang juga berani menyatakan bahwa
keberhasilan seseorang sangat tergantung dari kemampuan dan
keterampilannya berkomunikasi. Saya tidak akan berteori,
melainkan membatasi uraian ini pada pengalaman dan persepsi
saya tentang komunikasi dalam pendidikan dan pengajaran,
khususnya di ITB. Karena itu dalam waktu yang singkat tetapi
terhormat ini perkenankan saya menyampaikan beberapa hal yang
saya anggap perlu dikomunikasikan dengan baik. Hal yang akan
dikemukakan itu sendiri merupakan usaha membangun
kemampuan dan keterampilan berkomunikasi. Respons dari para
mahasiswa tidak terukur secara kuantitatif, walaupun begitu saya
telah berusaha agar apa yang saya sampaikan dalam kuliah dapat
ditangkap dan dipahami oleh para mahasiswa. Suatu hal yang
memberikan kebahagiaan adalah apabila kuliah yang saya berikan
itu disenangi, dan para mahasiswa mengerjakan tugas dengan
kegembiraan serta mendapat nilai yang baik.
Saya senang melihat keberhasilan; senang melihat lulusan ITB
berhasil dalam pekerjaan dan karirnya. Kita juga memahami
bahwa keberhasilan tersebut tidak semata-mata dicapai karena
ilmu pengetahuan yang dimiliki lulusan ITB, melainkan juga oleh
bagaimana seseorang membawakan diri serta sejauh mana
kesungguhan yang bersangkutan dalam usahanya mencapai
prestasi yang tinggi.
4
Cita-cita dan motivasi
Selain materi kuliah, kepada para mahasiswa hendaknya juga
diberikan hal yang berkaitan dengan kehidupan; tentang ilmu dan
seni kehidupan. Hal ini diperlukan untuk mengingatkan mereka
bahwa menjadi mahasiswa ITB bukanlah tujuan, melainkan untuk
mendapatkan bekal ilmu dan keterampilan bagi kehidupannya di
kemudian hari. Karena itu hendaknya diberikan dorongan agar
setiap mahasiswa berusaha menemukan cita-citanya. Dengan
demikian mereka akan memahami dan bersungguh-sungguh,
dengan motivasi yang tinggi mendapatkan kemampuan dan
keterampilan yang perlu dimiliki.
Dalam perjalanan waktu mungkin saja terjadi perubahanperubahan
dalam keinginan dan cita-citanya itu, karena
bertambahnya pengetahuan dan pengalaman, namun hal tersebut
hendaknya dianggap wajar dan manusiawi. Penetapan sasaran
(goal setting) merupakan sesuatu yang perlu dilakukan pada setiap
proses supaya ada komitmen untuk mencapai hasil yang baik.
Penetapan sasaran perlu dilakukan dengan optimisme dan
kegembiraan (the joy of goal setting). Demikian juga dengan
implementasinya, karena mengejar sesuatu tentu lebih
menyenangkan daripada dikejar-kejar.
Pesan yang ingin disampaikan adalah agar setiap orang memiliki
cita-cita, supaya kita sendiri yang menentukan arah kehidupan
yang akan datang. Tentu ada yang bersikap santai saja, namun
pada suatu ketika orang harus mengambil keputusan tentang
pilihannya. Di sini setiap orang dituntut memahami dirinya
sendiri, kekuatan dan kelemahan, kelebihan dan kekurangannya
serta dapat mengendalikan diri; termasuk di dalamnya adalah
tentang kemampuannya membangkitkan semangat dan
motivasinya sendiri. Maka kepada setiap mahasiswa hendaknya
diingatkan bahwa di kampus inilah mereka harus menemukan
dirinya (self-discovery). Kampus adalah tempat mahasiswa
menemukan dirinya.
5
Bagaimanapun setiap orang hendaknya memiliki cita-cita,
meskipun Tuhan juga yang menentukan yang terbaik baginya.
Kelas yang hidup dan bermutu
Tantangan bagi dosen adalah bagaimana dapat menjelaskan materi
kuliah dengan baik, memberikan yang esensial dengan cara yang
menarik, percaya diri, dan membangkitkan motivasi para
mahasiswanya. Komunikasi dan interaksi di dalam kelas dan di
luar kelas sangat menentukan efektivitas dan mutu pendidikan.
Dosen yang menjelaskan, mahasiswa yang bertanya; berbicara
dan mendengarkan yang terjadi silih berganti,semuanya itu
merupakan bagian dari pendidikan yang penting serta berlaku
dalam kehidupan yang sejahtera. Bertanya pun harus jelas serta
menggunakan bahasa yang baik dan benar, supaya diperoleh
jawaban yang baik dan benar pula. Mereka yang pandai
mendengarkan sangatlah beruntung karena dapat belajar dan
mendapatkan informasi lebih banyak. Selain itu lebih
menyenangkan serta dapat bekerjasama dan menjadi pemimpin
yang baik. Mahasiswa hendaknya didorong untuk bertanya
tentang sesuatu yang belum jelas atau masih memerlukan
penjelasan lebih lanjut. Dengan demikian dosen dipacu untuk
senantiasa mengikuti perkembangan dan mahasiswa memahami
semua materi yang dibahas. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa
mutu pendidikan sangat tergantung dari partisipasi dan kontribusi
dari semua yang terlibat. Hal tersebut sangat menarik karena baik
dosen maupun mahasiswa senang dan merasa perlu datang ke
kuliah. Secara tidak langsung dosen akan meningkatkan
kemampuan berkomunikasi serta dapat membaca pikiran atau
gagasan mahasiswa (the unborn ideas) serta membantu
mahasiswa mengungkapkan pikiran dan gagasannya tersebut.
Berdebat dan berdiskusi pun hendaknya bersifat kooperatif
apabila menginginkan kebenaran atau mendapatkan solusi dan
jalan keluar yang terbaik.
6
Hubungan dosen-mahasiswa yang harmonis
Pengertian dan sikap mahasiswa yang kooperatif sangat
menentukan keberhasilan pendidikan. Hal tersebut terasa terutama
dalam kurun waktu awal enampuluhan, ketika jumlah dosen baru
beberapa orang saja. Pada waktu itu saya pernah mengajar
mungkin sampai enam matakuliah dalam satu semester. Tentu saja
saya tidak mempunyai waktu cukup banyak untuk melakukan
persiapan yang baik. Karena itu saya minta kepada para
mahasiswa agar membaca materi kuliah yang akan diberikan dan
mengajukan pertanyaan dalam kuliah tentang hal yang belum
jelas. Dengan bantuan para mahasiswa yang dengan penuh
kesadaran mempelajari materi kuliah lebih dahulu, kuliah dapat
dilaksanakan dengan mudah dan lancar serta menyenangkan.
Pertanyaan yang diajukan lebih terarah sehingga dapat diperoleh
pemahaman yang lebih baik. Kuliah terasa lebih hidup dan diskusi
pun berkembang. Dari hal tersebut dapat diperoleh pengertian
tentang belajar- mandiri. Selain itu juga membangkitkan
kesadaran mahasiswa untuk mendapatkan pengetahuan, pelajaran,
dan keterampilan sebanyak-banyaknya dari kampus. Kehidupan
kampus memang harus menyenangkan supaya semua bergairah
pergi ke kampus, dan tidak stres. Dari hal tersebut biasanya
diperoleh nilai ujian akhir yang rata-rata baik. Saya jarang
memberikan nilai jelek, kecuali jika terpaksa, misalnya jika
hasilnya benar-benar kurang memuaskan dan partisipasinya
dalam kuliah serta penampilannya sehari-hari tidak meyakinkan,
atau memberikan kesan bahwa yang bersangkutan belum
memahami materi kuliahnya. Meskipun ada juga mahasiswa yang
santai dan bermalas-malas, tetapi jika mereka mengikuti kuliah
dengan baik, biasanya masih mendapatkan manfaatnya.
Matematika dan ilmu pengetahuan dasar
Matematika memerlukan kreativitas. Sebagai gambaran, teori
kreativitas dikembangkan oleh J.H. Poincaré, seorang pakar
7
matematika Perancis abad-19. Matematika tidak gersang,
melainkan sarat dengan keragaman dan variasi serta
menyenangkan. Matematika adalah ilmu buatan manusia,untuk
memudahkan manusia mencari dan mengembangkan ilmu
pengetahuan. Orang pun harus mengerti bahwa mereka yang
menguasai matematika tidak gentar menghadapi perubahan.
Mereka itu tidak akan mengalami kesulitan dalam mempelajari
hal baru apa pun. Mereka adalah orang-orang yang beruntung.
Begitu pula bagi mereka yang menguasai ilmu pengetahuan
dasar. Di masa depan makin banyak kasus atau fenomena baru
yang belum pernah ditemui sebelumnya. Dalam menghadapi hal
tersebut, dengan penguasaan matematika dan ilmu-ilmu dasar,
orang dapat memahami masalahnya dengan lebih mudah dan lebih
jelas.
Hal-hal yang bersangkut paut dengan kepentingan matematika dan
ilmu pengetahuan dasar (MIPA) tersebut hendaknya
dikomunikasikan dan disosialisasikan dengan baik, supaya para
mahasiswa mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, meskipun
mereka belum mengetahui keseluruhan kegunaan dan bidang
aplikasinya sekalipun. Usaha memotivasi para mahasiswa supaya
bersungguh-sungguh dalam mengikuti kuliah MIPA di TPB
merupakan sesuatu yang penting dan relevan. Mereka yang
menguasai matematika lebih mudah dalam mengikuti kuliah di
tahun-tahun berikutnya. Mereka yang tidak menguasai
matematika, mungkin sekali baru belajar matematika untuk
memahami materi kuliah, yaitu ketika mereka seharusnya sudah
memahami hal-hal yang esensial dari pengetahuan yang
dipelajarinya. Dengan demikian wajarlah jika hasilnya kurang
memuaskan.
Mengingat kepentingan tersebut matakuliah matematika
hendaknya dibuat menarik dan menggairahkan serta dengan
latihan yang intensif. Buku matematika dan ilmu pengetahuan
dasar sebaiknya diperbanyak, bukan saja yang ditulis oleh pakar
8
Indonesia, tetapi juga yang ditulis oleh pakar dari berbagai
kebangsaan, misalnya Amerika, Inggris, Perancis, Jerman, Jepang
Cina, India, dan lain sebagainya. Hal tersebut sangat baik untuk
memberikan gambaran tentang berbagai jalan pikiran dan
pendekatan untuk menjelaskan sebuah teori yang sama.
Hands-on experience dan pengenalan dunia kerja
Masyarakat mendambakan lulusan ITB yang pandai,
berpengetahuan dan kreatif, tetapi juga terampil dan tidak
canggung bekerja, ramah, terpercaya dan percaya diri.
Pengenalan dunia kerja merupakan kebutuhan dan diusahakan
dapat diberikan pada kesempatan pertama, supaya para mahasiswa
dapat memperoleh gambaran riil serta memahami apa yang
diharapkan dari seorang insinyur.
Dengan hands-on experience di laboratorium atau pun di tempat
lain dapat diperoleh pemahaman dan rasa tentang mesin,
mekanisme, alat, ukuran, berat, bentuk, kekerasan, kelonggaran,
toleransi, dan lain sebagainya. Di samping itu juga tentang
hubungan antara teori, gambar, dan wujud bendanya; tentang
pemasangan, penyetelan, operasi, dan perawatan.
Hands-on experience akan membangkitkan minat dan motivasi
untuk mempelajari lebih lanjut, mengembangkan, dan merancang
mesin dan perlengkapannya. Dalam hal tersebut terakhir, seorang
yang berpengalaman dapat membayangkan produk yang dituju
sehingga memudahkan pengembangan disain. Intuisinya lebih
tajam sehingga dapat memperkirakan apa yang mungkin dan apa
yang meragukan. Dengan demikian seseorang yang
berpengalaman lebih berani mengambil keputusan. Kita tahu
bahwa merancang mengandung serentetan pengambilan
keputusan. Karena itu di kampus para mahasiswa hendaknya
sudah menyiapkan diri untuk bekerja dan belajar bekerja,
sedangkan bekerja praktek di industri tetap diperlukan. Sementara
itu bagi para mahasiswa yang ingin mengikuti program
9
"cooperative education" dengan industri hendaknya diberi jalan
serta dipertimbangkan kemungkinannya.
Komunikasi dan kerjasama
Keterampilan berkomunikasi perlu dikembangkan supaya
mahasiswa pandai bertanya, menyampaikan pendapat, berdiskusi,
bergaul, dan memahami masalah kehidupan masyarakat. Dalam
era dimana informasi ada dalam jumlah yang berlimpah, kita
dituntut memiliki kemampuan dan keterampilan mencari dan
mendapatkan informasi yang relevan, benar dan bermanfaat. Ini
penting karena era informasi juga sarat polusi informasi. Dengan
demikian setiap orang hendaknya tangguh dan tanggap
menghadapi informasi yang berlimpah.
Salah satu indikator keberhasilan pendidikan dapat dilihat dari
kemampuan seseorang belajar mandiri; jadi, tentang
kemampuannya menilai kebenaran, kebenaran informasi. Dalam
hal ini termasuk kemampuan membaca dan menyatakan pendapat
secara lisan dan tertulis. Kemampuan tersebut dapat
dikembangkan melalui pembuatan laporan, membuat ikhtisar,
makalah, dan presentasinya.
Demikian juga dengan kemampuan dan keterampilan bekerja
sama, hendaknya dilihat sebagai kebutuhan yang mutlak. Karena
itu hendaknya dikomunikasikan kepada para mahasiswa, supaya
selama masa studinya meluaskan pergaulan dan interaksinya
dengan warga kampus, tetangga, dan masyarakat pada umumnya,
termasuk partisipasi sosialnya.
Kemampuan dan keterampilan bekerjasama, terutama kerjasama
dalam tim, sangat diperlukan karena pada kenyataannya hampir
tidak ada kegiatan yang dapat diselesaikan sendiri. Namun,
kerjasama sinergi yang harmonis hanya dapat terjadi dengan
komunikasi yang baik. Semangat bekerjasama harus dibangkitkan
untuk mencapai hasil yang tinggi mutunya, yaitu ketika semua
unsur yang bekerjasama merasa dan bersepakat mengemban misi
10
yang sama serta melepaskan kepentingan pribadi, dan egonya,
untuk mencapai hasil yang terbaik. Kemampuan dan keterampilan
berkomunikasi dan bekerjasama merupakan modal yang tinggi
nilainya untuk mendapatkan atau menciptakan pekerjaan serta
merupakan landasan yang kuat bagi kepemimpinan dan
keberhasilannya.
Kreativitas dan pengembangannya
Saya pernah belajar tentang filsafat perancangan (Philosophy of
Design) ketika saya belajar di Stanford University pada tahun
1961 selama dua kuartal di bawah bimbingan Prof. John Arnold.
Di situ saya diperkenalkan dengan kreativitas dan
pengembangannya, dan bahwa semua orang memiliki potensi
kreatif yang cukup tinggi. Orang-orang kreatif mengembangkan
potensinya secara alami sesuai dengan karakternya. Semua orang
dapat mengembangkan kreativitasnya secara sistematik dan
berkelanjutan. Kreativitas bukan milik seseorang, melainkan milik
banyak orang. Karena itu kreativitas harus dikembangkan supaya
kita dapat berpikir, berbuat, berhasil dan memberikan yang lebih
baik, lebih banyak, lebih bermanfaat dan lebih menguntungkan.
Karena itu kreativitas perlu diperkenalkan dalam kuliah dan dalam
kegiatan ekstrakrikuler. Brainstorming sudah biasa digunakan,
meskipun tidak benar dalam penerapannya. Brainstorming adalah
proses menampilkan idea atau gagasan sebanyak-banyaknya dan
sebebas-bebasnya, tetapi tanpa komentar dan penilaian oleh
siapapun, dalam jangka waktu tertentu, misalnya setengah jam.
Setelah dianggap tuntas, baru diadakan analisis dan evaluasi
secara cermat. Inilah pedomannya, selama brainstorming
berlangsung, alam pikiran kita harus dibebaskan dari hambatan
apapun, dan penilaian dan komentar harus ditangguhkan.
Demikianlah matakuliah kreativitas diadakan agar para
mahasiswa dapat mengembangkan potensi kreatifnya, sehingga
sekurang-kurangnya dapat menjadikan dirinya kreatif, tetapi juga
11
orang lain di sekitarnya. Kreativitas diperlukan supaya selalu ada
yang lebih baik, supaya semua kemampuan yang ada bermanfaat
dan tidak mubazir, supaya pandai dan terampil menyelesaikan
masalah, mendapatkan temuan baru, invensi, dan inovasi.
Demikianlah, kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan
idea atau gagasan yang kreatif, yaitu orisinil dan bermanfaat.
Pengembangan alternatif dan pengambilan keputusan
Dalam pengembangan alternatif solusi atas suatu masalah
hendaknya dipahami bahwa alternatif solusi yang ditampilkan
haruslah sama bobotnya sehingga tidak mencerminkan urutan
prioritas. Dengan demikian pengambilan keputusan dilakukan
berdasarkan pertimbangan implementasi yang paling mudah. Hal
itu disebabkan karena setiap alternatif memiliki keunggulan dan
kekurangannya. Karena itu pilihan mana pun yang diambil tidak
menjadi masalah. Tetapi orang dituntut memiliki komitmen yang
kuat untuk melaksanakan keputusan serta dengan kesungguhan
berusaha mencapai hasil yang baik. Segi positifnya
didayagunakan dan dimanfaatkan, sedangkan segi negatifnya
dihindari atau dikurangi. Dengan demikian tidak ada salah pilih
bagi pemimpin yang harus mengambil keputusan, meskipun setiap
keputusan mengandung risiko dan setiap risiko harus
diperhitungkan dan diusahakan tidak terjadi.
Hal tersebut harus dikomunikasikan dengan baik karena yang
paling berbahaya adalah apabila kita bersikap ragu-ragu dan tidak
berani mengambil keputusan, karena dibayang-bayangi rasa takut
dan gagal ( "inner sabotage"). Keterampilan mengambil
keputusan dapat dilatih dan akan berkembang dengan pengalaman
menangani masalah riil. Intuisinya pun akan berkembang dan
makin tajam. Hal tersebut dapat diperoleh melalui kegiatan
ekstrakurikuler dimana para pahasiswa dihadapkan pada masalah
riil, misalnya menyelenggarakan lomba disain, seminar,
pertandingan olahraga, acara reuni, dan lain sebagainya. Dengan
12
demikian partisipasi staf pengajar dalam kegiatan ekstrakurikuler
sangat diperlukan.
Sebenarnya ilmu pengetahuan relatif lebih mudah dicari,
dikembangkan dan dikomunikasikan daripada mengajarkan dan
melatih keberanian serta membentuk karakter seseorang. Banyak
profil keberanian yang dapat ditampilkan dan diajarkan, tetapi
menjadikan seseorang berani dan tidak ragu-ragu dalam
mengambil keputusan, dan berani melaksanakan keputusan
dengan baik serta menanggung risikonya, tidaklah semudah yang
diucapkan. Seseorang boleh saja menguasi ilmu keguruan dan
pendidikan, tetapi menjadi guru dan pendidik yang baik bukan
sesuatu yang mudah.Pengembangan faktor manusianya yang
harus mendapatkan, mengembangkan, menerapkan dan
memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kepentingan
dan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, hendaknya
mendapatkan perhatian yang lebih besar. Di sini kita menyadari
betapa pentingnya pengembangan emotional intelligence yang
harus terjadi berkelanjutan.
Interaksi dan pergaulan antara warga kampus
Kepada para mahasiswa hendaknya dianjurkan agar menggunakan
setiap kesempatan yang ada untuk berkenalan dengan warga
kampus. Ini diperlukan supaya mereka tidak membatasi
pergaulannya dengan teman seangkatan, melainkan berusaha
berkenalan dengan mahasiswa dari departemen lain. Hal tersebut
dapat dilakukan melalui unit-unit kegiatan mahasiswa atau
partisipasinya dalam berbagai kegiatan kampus. Di samping itu
juga supaya tidak hanya bergaul dengan teman laki-laki atau
perempuan saja. Hal ini penting supaya tidak canggung dalam
pergaulan dan berusaha menjadi orang yang menyenangkan.
Selain itu juga mengenal adanya perbedaan-perbedaan: persepsi,
pandangan, pendapat, budaya, kebiasaan, profesi, kemampuan,
minat, dan lain sebagainya. Pergaulan dan kerjasama di kampus
13
adalah membangun jaringan (network) secara dini yang akan
berlanjut dalam pekerjaan di kemudian hari. Karena itu pergaulan
hendaknya tidak sebatas di kampus, tetapi juga dengan warga
kampus lain, dan masyarakat pada umumnya. Dari pergaulan
tersebut dapat diperoleh informasi tentang kemampuan, ciri,
keistimewaan, dan keterampilan yang dimiliki teman sejawat, atau
dosen. Di kemudian hari ketika diperlukan seseorang dengan
kemampuan dan keterampilan tertentu, hal yang pertama kali
diingat adalah seseorang yang dikenal, dan seringkali teman lama
di kampus, setidak-tidaknya untuk berkonsultasi.
Pergaulan di kampus memberikan banyak pelajaran dan
pengalaman tentang berbagai budaya dan kebiasaan,
berkomunikasi, berbagai bahasa daerah, bertukar pengalaman dan
pengetahuan serta saling menolong. Berbagai usaha dilakukan
untuk meluaskan interaksi, termasuk perencanaan jadwal kuliah,
lokasi ruang kelas dan laboratorium serta kantor administrasi
departemen dan fakultas yang dibuat bercampur dan tidak
mengikuti pola atau sistematika yang lazim dipakai. Hal tersebut
perlu dijelaskan kepada para mahasiswa supaya menyadari hal
tersebut. Pergaulan dengan mahasiswa asing dapat melancarkan
kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga sebaliknya, supaya
mereka juga dapat berbahasa Indonesia yang baik dan benar; dan
supaya mereka mengenal budaya dan mencintai bangsa dan
bahasa Indonesia.
Hubungan dengan industri, pemerintah, dan masyarakat
Keakraban hubungan dengan industri, pemerintah dan masyarakat
hendaknya dilanjutkan karena makin penting dan bermanfaat.
Bukan sekadar untuk memahami aspirasi dan kebutuhan yang
berkembang, tetapi supaya semua potensi yang ada dapat
didayagunakan dengan baik. Hal tersebut akan memberikan
pengalaman dan pelajaran yang bermanfaat bagi semua,
khususnya untuk memajukan dan meningkatkan mutu pendidikan.
14
Kepada para mahasiswa dapat diberitahukan tentang berbagai
masalah riil yang perlu mendapatkan perhatian lebih banyak.
Dengan demikian materi kuliah dapat disesuaikan serta mencakup
penyelesaian masalah yang sering terjadi dalam kehidupan
masyarakat dan industri. Hubungan baik tersebut memungkinkan
mahasiswa memperoleh kesempatan kerja praktek, mendapatkan
pengalaman bekerja, atau melakukan penelitian bersama staf
pengajar. Selain itu, hubungan dengan industri juga
memungkinkan staf pengajar mendapatkan pengalaman bekerja di
industri untuk jangka waktu tertentu. Sebaliknya, pakar industri
dapat memberikan ceramah dan kuliah di kampus. Keberadaan
mahasiswa di industri memberi kesempatan kepada industri untuk
merekrut tenaga kerja baru. Di lain pihak, dari interaksinya
dengan industri, mahasiswa dapat menentukan pilihannya untuk
bekerja di industri tertentu.
Demikianlah usaha tersebut merupakan salah satu usaha
mendapatkan informasi tentang kesempatan atau ketersediaan
pekerjaan bagi lulusan ITB. Hal tersebut sangat diperlukan karena
salah satu indikator keberhasilan pendidikan adalah kemudahan
bagi lulusannya mendapatkan pekerjaan atau menciptakan
lapangan pekerjaan. Selain itu akses ke industri merupakan
kehormatan untuk menyaksikan dan menjadi bagian dari
keberhasilan dan kemajuan industri. Sesekali ada baiknya jika kita
berkunjung ke tempat lain, supaya kita mengetahui apa yang
dilakukan orang lain, selain meluaskan wawasan, supaya kita
pandai menghargai dan memuji keberhasilan orang lain.
Koordinasi dengan perguruan tinggi lain
Sebagai perguruan tinggi sains dan teknologi yang tertua di
Indonesia, sudah sepatutnya ITB menjadi panutan. Apabila dalam
kenyataan tingkat pengetahuan mahasiswa baru juga relatif lebih
tinggi dibandingkan dengan perguruan tinggi lain, maka lulusan
ITB sebaiknya dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan
15
yang memadai dan bermanfaat, bagi pembangunan masyarakat
bangsa Indonesia. Tetapi hal tersebut tidak mungkin dapat
dipenuhi sendiri. Karena itu koordinasi dengan perguruan tinggi
lain diperlukan supaya semua kebutuhan masyarakat dapat
dilayani. Dengan demikian kepada perguruan tinggi lain dapat
disarankan agar dapat memberikan matakuliah yang tidak
diberikan di ITB, atau kurang peminatnya. Misalnya mesin tekstil,
percetakan, peralatan rumah sakit, senjata dan peralatan militer,
proses dan manufaktur barang-barang elektronika, chips, mesinmesin
mikro, dan masih banyak lagi yang lain yang tidak
tertangani.
Walaupun demikian harus diusahakan supaya akar ilmunya ada di
sini. Dalam konteks ini koordinasi dengan dan bantuan kepada
perguruan tinggi lain dilanjutkan supaya memiliki kemampuan
dan fasilitas yang diperlukan untuk memungkinkan hal tersebut di
atas.
Demikianlah, sejalan dengan hal tersebut, salah satu tujuan dari
usaha memperbanyak matakuliah pilihan adalah supaya makin
banyak ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dibawa oleh
lulusan ITB ke masyarakat dan industri.
Bantuan kepada perguruan tinggi lain merupakan salah satu
bentuk pengabdian dan partisipasi ITB dalam meningkatkan mutu
dan memajukan pendidikan di Indonesia. Pada tingkat keadaan
seperti ini ITB dapat memperoleh peserta program pendidikan
pasca sarjana yang lebih baik.
Program pendidikan pascasarjana teknik
Batasan antara sains dan enjiniring tidak lagi jelas dan tajam.
Sementara itu ada kecenderungan untuk selalu mengaitkan
pengembangan teori dan aplikasinya. Dalam sains ada "enjiniring"
dan dalam enjiniring ada sains. Dalam teknologi berpadulah sains,
seni, dan enjiniring itu. Enjiniring akan maju dan berkembang
dengan pesat atas dukungan sains yang kuat. Karena itu saya
16
sangat mendambakan program pascasarjana teknik membuka
kesempatan bagi lulusan Fakultas MIPA yang berminat masuk ke
program pendidikan pascasarjana teknik, dan memecahkan
masalah-masalah enjiniring. Dengan demikian mereka yang ingin
menjadi insinyur, tidak selalu harus melalui jalur program
pendidikan sarjana teknik. Mereka itu boleh menjadi mahasiswa
Fakultas MIPA lebih dahulu untuk memperoleh basis ilmu
pengetahuan MIPA yang lebih baik.Setelah itu baru mengikuti
program pendidikan pascasarjana teknik. Dengan demikian,
jumlah mahasiswa yang berminat masuk Fakultas MIPA akan
bertambah banyak serta dengan tingkat pengetahuan yang lebih
tinggi. Di bidang teknik, keberadaan dan interaksi antara para
mahasiswa yang berlatar pendidikan teknik dan sains akan lebih
memacu kemajuan dan perkembangan ilmu serta temuan baru.
Dengan demikian akan terbangun suasana, pengertian, dan
kerjasama yang sinergi serta harmonis antara semua warga
kampus, di samping memungkinkan lebih banyak lagi program
kegiatan yang terintegrasi (integrated program). Hal tersebut
sangat menguntungkan serta memungkinkan terciptanya produk
yang lebih tinggi mutunya. Fokus pengamatan dan perhatian
hendaknya ditujukan lebih dahulu pada sains dan teknologi yang
strategis, yaitu yang berkaitan dengan material dan energi,proses
dan manufaktur, informasi dan telekomunikasi, biosains dan
bioteknologi; transportasi-darat,-laut,dan -dirgantara, serta
lingkungan.
Disiplin dan membagi waktu
Banyak hal dan produk yang dapat dibuat lebih baik kalau saja
kita berani bersungguh-sungguh dan berdisiplin. Tetapi banyak
orang enggan mengatakannya karena malu disebut sok militeristis.
Pada hal disiplin milik semua orang, meskipun belajar berdisiplin
yang paling efektif adalah dengan cara militer. Karena itu baiklah
kalau kita definisikan disiplin dalam arti yang sempit saja, yaitu
17
taat aturan dan menepati janji. Dengan demikian orang dapat
menyatakan dengan tegas, bahwa tanpa disiplin tidak ada
keberhasilan. Hal ini baik untuk dikomunikasikan dan
disosialisasikan kepada para mahasiswa dan warga kampus pada
umumnya, supaya disiplin menjadi bagian dari budaya dan
menjadi kebiasaan yang baik. Dengan demikian disiplin akan
memberikan kenikmatan tersendiri. Mereka yang berdisiplin dapat
membagi waktu dan dapat berbuat lebih banyak. Selain itu dapat
membuat perencanaan yang lebih baik, meningkatkan prestasi dan
produktivitas, menjaga ketertiban dan keselamatan bangsa serta
mematuhi etika pergaulan, berkomunikasi dan bekerjasama.
Dalam pengertian tersebut, kampus akan menjadi contoh
kehidupan yang baik. Disiplin membentuk kepribadian yang kuat
dan terpercaya, keksatriaan, dan sportivitas yang melandasi
kepemimpinan yang baik. Dengan demikian, menyelesaikan studi
tepat waktu tidak akan menjadi masalah lagi. Sementara itu perlu
juga dikemukakan di sini bahwa disiplin tidak menghambat
kreativitas, melainkan harus memicu dan memacu kreativitas dan
inovasi.
Besar harapan saya semua warga kampus dapat memahami hal
ini, dan staf pengajar akan menjadi teladan. Hal tersebut terakhir
sangat penting karena dosen di kelas akan menjadi pusat
perhatian, dan seringkali menjadi bahan ceritera mahasiswa dan
alumni. Tentu tentang kebiasaan-kebiasaan yang menarik
perhatian. Jangan-jangan ceriteranya sampai juga ke orang tua dan
keluarganya? Karena itu mutu pelayanan pendidikan termasuk
hal yang perlu mendapat perhatian lebih dahulu dan diperbaiki
secara berkelanjutan. Disiplin berlaku untuk semua warga
kampus, karena disiplin baik untuk semua; disiplin yang memacu
kreativitas dan inovasi, disiplin yang menyelamatkan dan menjaga
ketertiban, disiplin untuk mencapai keberhasilan.
18
Jiwa dan semangat kebangsaan
Dalam era globalisasi yang menuntut keterbukaan, hendaknya
diingat bahwa keterikutan suatu bangsa dalam globalisasi
samasekali tidak berarti adanya keharusan untuk melepaskan rasa
kebangsaannya. Kita hendaknya memiliki jatidiri dan tidak begitu
saja menuruti kehendak bangsa lain.
Jiwa dan semangat kebangsaan makin penting dan harus
ditanamkan kepada setiap insan bangsa Indonesia secara
berkelanjutan. Kepentingan dan jatidiri bangsa tetap merupakan
bagian kehidupan yang harus dibela dan dipertahankan.
Globalisasi mungkin tidak dapat dihindari tetapi globalisme harus
diwaspadai. Keinginan suatu bangsa untuk menguasai bangsa lain
menyangkut semua aspek kehidupan: politik,ekonomi,dan sosialbudaya.
Dengan kemajuan teknologi informasi yang makin pesat, ancaman
tersebut terasa makin keras, dan negara industri maju akan tetap
ada pada posisi yang mendominasi. Dalam era informasi, dengan
informasi yang berlimpah, sudah sewajarnya jika polusi informasi
harus diwaspadai. Tanpa pegangan dan pedoman yang kokoh,
masyarakat suatu bangsa dapat dicerai-beraikan. Banyak cara
menaklukkan dan menguasai suatu bangsa. Karena itu kepada
para mahasiswa perlu diingatkan bahwa keberadaannya di kampus
ini juga mengemban misi meningkatkan kemakmuran dan
kesejahteraan bangsa, dan bukan sekadar untuk kepentingannya
sendiri.
Lulusan ITB hendaknya menjadi patriot, pelopor pembangunan,
tetapi juga pelopor persatuan dan kesatuan bangsa. Kita
hendaknya dapat mengatasi masalah kita sendiri lebih dahulu
daripada menunggu bantuan dan belas kasihan bangsa lain. Kita
seharusnya menjadi pakar dalam masalah yang khas negara
sedang berkembang, misalnya tentang kependudukan di lahan
sempit, tentang masalah air, reboisasi, transportasi antar pulau,
dan lain sebagainya. Selanjutnya, dengan apa yang kita miliki,
19
hendaknya kita dapat menemukan masalah dan kebutuhan yang
utama (need finding), dan menyelesaikan serta memenuhi
kebutuhan tersebut dengan kekuatan sendiri. Inilah semangat yang
harus dikumandangkan dan bergelora dalam jiwa setiap
mahasiswa ITB. Siapa lagi yang akan mengangkat harkat dan
martabat rakyat dan masyarakat bangsa Indonesia, jika bukan kita
sendiri?
Penutup
Hadirin yang terhormat, para mahasiswa dan alumni yang saya
cintai dan saya banggakan.
Kita menyadari bahwa kehidupan sekarang dan yang akan datang
sarat perubahan, persaingan, dan kompleksitas. Kemajuan dan
perkembangan akan terjadi di semua lini kehidupan, di semua
bidang sains dan teknologi. Kita harus mampu memantau
kecenderungan perkembangan supaya kita dapat mengantisipasi
perubahan-perubahan itu lebih dini, supaya program pendidikan
relevan dengan kebutuhan, sekarang dan di masa yang akan
datang. Karena itu kita fokuskan perhatian kita pada sains dan
teknologi yang strategis, yang memicu dan memacu kemajuan
dan perkembangan bidang lain, yaitu yang bersangkutpaut dengan
material dan energi, proses dan manufaktur, informasi dan
telekomunikasi, biosains dan bioteknologi, transportasi-darat, -
laut, dan -dirgantara, serta lingkungan. Program pascasarjana
hendaknya menjadi ujung tombak pendidikan di ITB.
Tidak ada hal yang lebih mendesak daripada menguasai sains dan
teknologi yang ada. Selanjutnya mendayagunakannya untuk
kepentingan serta bagi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat
bangsa Indonesia. Bersamaan dengan hal tersebut perlu
dikembangkan pengertian tentang bisnis (sense of business) dan
kewirausahaan (entrepreneurship); kemampuan negosiasi dan
pemahaman tentang total design, supaya tidak ada yang mubazir,
supaya semua disain dan produk terjual dan bermanfaat.
20
Perlu kiranya dikomunikasikan bahwa dalam masyarakat yang
sejahtera berlaku pengertian tentang adanya authority, values,
norms, rewards, dan sanctions. Jadi, selalu ada kekuasaan atau
kewenangan, nilai-nilai dan norma yang berlaku serta
penghargaan bagi mereka yang berjasa, dan sanksi bagi mereka
yang melanggar aturan. Dengan pengertian tersebut setiap orang
akan menjalankan fungsi dan tugasnya dengan baik.
Kita harus memiliki komitmen untuk menjadikan lulusan ITB
problem solver yang kreatif, memiliki kemampuan berkomunikasi
dan bekerjasama serta memiliki moral dan etika yang tinggi.
50 tahun yang lalu saya datang di Bandung, setelah lulus dari
(yang sekarang) SMU Negeri 3 Malang dan belajar di kampus ini.
20 tahun kemudian atau 30 tahun yang lalu saya menjabat guru
besar, ketika Rektor Kusmayanto baru menjadi mahasiswa ITB,
dan akhir tahun 2003 ini saya pensiun dari pegawai negeri. Tetapi
saya merasa masih seperti yang dulu. Saya masih ingin menulis
dan memberikan apa saja yang masih dianggap baik.
Perkenankan saya pada kesempatan ini menyampaikan
terimakasih kepada pemerintah, pimpinan dan keluarga besar ITB,
khususnya teman sejawat dan para mahasiswa dari Departemen
Teknik Mesin; orang tua, isteri, dan anak-anak saya yang telah
memungkinkan saya bekerja di ITB.


